Kamis, 15 Oktober 2009

Tips Dakwah

Berdakwah merupakan kewajiban setiap muslim. Setiap orang yang telah mengikrarkan dua kalimat syahadah memikul tugas untuk menyampaikan kebenaran yang telah diyakininya kepada orang lain. Karena hakekat dakwah adalah menunjukkan jalan menuju kebenaran. Ibarat seorang musafir tentu ia membutuhkan petunjuk dalam perjalannya agar sampai di tujuan tanpa tersesat. Maka para rasul pun diutus ke bumi untuk menunjukkan umatnya jalan menuju kebenaran. Dan kewajiban ini terus menerus dibebankan kepada umatnya setelah wafatnya.

Dakwah bukanlah sebuah profesi yang hanya dilakukan sebagian orang saja sebagaimana dipahami banyak orang. Namun ia merupakan manifestasi keimanan setiap orang yang mengaku muslim. Memang untuk dapat menyampaikan dakwah kepada umat secara baik dan benar seseorang dituntut untuk memiliki kapasitas keilmuan yang memadai di samping faktor-faktor penunjang lainnya. Namun, seseorang tak perlu menjadi seorang kiai atau ulama terlebih dahulu untuk boleh berdakwah. Bahkan kewajiban menyampaikan itu tidak gugur hanya dikarenakan seseorang merasa belum memiliki ilmu yang cukup. Hal ini ditegaskan oleh sabda Nabi saw, “Ballighu ‘anniy walau ayah”, sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat. Dalam hadits yang lain disebutkan, “Berapa banyak orang yang diberitahu lebih paham daripada yang memberitahu”. Ini adalah bentuk penegasan bahwa setiap muslim memikul kewajiban untuk menyampaikan ilmunya kepada orang lain. Bahkan secara lebih tegas Allah swt menyatakan laknat-Nya kepada orang-orang yang telah sampai kepada mereka kebenaran namun justru mereka menyembunyikannya sebagaiman dilakukan oleh Ahli Kitab.

Berdakwah tidaklah harus di atas mimbar ataupun di masjid-masjid atau pada waktu-waktu tertentu saja. Karena setiap tempat dan waktu merupakan ladang untuk berdakwah. Bahkan tidak sedikit dakwah seseorang yang berhasil bukan lewat mimbar. Karena andaikan dakwah terbatas hanya di tempat-tempat atau waktu-waktu tertentu, niscaya sedikit sekali kesempatan itu. Bahkan dakwah yang paling efektif bukanlah dengan memberikan orasi yang mempesona di podium yang memikat hati setiap orang yang mendengarnya, meskipun hal itu juga diperlukan sebagai sarana penyampaian. Namun rahasia dakwah yang sukses justru terletak pada diri da’i itu sendiri. Karena manusia lebih cenderung mempercayai bahasa kepribadian daripada bahasa lisan. Seseorang bisa saja berjam-jam berorasi di hadapan banyak orang dengan gelora semangat yang membangkitkan emosi para pendengar, namun setelah ia turun dari mimbarnya justru apa yang baru saja disampaikannya ditolak mentah-mentah karena kepribadiannya bertolak belakang dengan apa yang diucapkannya. Lisanul hal ablaghu min lisanil maqal, demikian para ahli hikmah mengatakan.

Oleh karena kewajiban berdakwah tidak terbatas hanya untuk kalangan tertentu saja, maka setiap muslim dapat memanfaatkan potensi yang dimilikinya sebagai sarana untuk berdakwah. Sebagai contoh seorang dokter, ia dapat memberikan resep tambahan kepada para pasien sebelum meninggalkan tempat prakteknya menuju rumah masing-masing dengan resep-resep syar’i seperti menjaga shalat lima waktu tepat pada waktunya, puasa senin-kamis, shalat dhuha dan lain sebagainya serta memberikan pemahaman yang benar bahwa kesembuhan datangnya hanya dari Allah swt semata, adapun dokter, obat, atau apapun selain-Nya hanyalah sebagai sebab dan perantara, dan tawakal kepada-Nya itulah jalan satu-satunya yang akan mendatangkan ketenangan dalam hati. Dengan cara yang sedemikian halus tentu seorang pasien tidak akan merasa bahwa dirinya sedang mendapatkan ceramah keagamaan seperti yang banyak disampaikan di mimbar-mimbar oleh para da’i.

Faktor-faktor pendukung kesuksesan dakwah pun perlu mendapatkan perhatian serius bagi para calon dai. Karena hal itu menjadi kunci sukses tidaknya sebuah dakwah. Berikut ini beberapa resep yang dapat diambil manfaatnya sebagai bekal menuju dunia dakwah:

1. Perbaikan diri.

Sebelum mulai terjun berdakwah seseorang dituntut terlebih dahulu memperbaiki hubungannya dengan Rabbnya. Karena intisari dakwah yang akan disampaikannya adalah ditujukan untuk menuju Rabbnya. Bagaimana mungkin seseorang ingin mengajak orang lain menuju Rabbnya sementara hubungan dirinya sendiri dengan Rabbnya kurang harmonis. Hal ini tentu menjadi syarat utama bagi seorang dai sekaligus sebagai sarana pembentukan kepribadian. Jika kita tengok lebih jauh biografi para ulama generasi salaf, tentu kita akan mendapati bahwa mereka adalah pribadi-pribadi yang demikian intensif memperhatikan hubungan dirinya dengan Rabbnya. Mereka betul-betul menjaga hubungan itu agar jangan sampai rusak. Setiap kali syetan datang menggoda hati mereka, mereka segera teringat akan Zat yang telah menciptakannya, lalu beristighfar dan bertaubat memohon ampun atas kesalahan yang baru saja dilakukannya. Bahkan tak sedikit di antara mereka yang terus-menerus menangisi kesalahan yang telah lama ia perbuat. Serta memohon ampun setiap saat karena khawatir kesalahan itu akan membuat Kekasihnya murka. Padahal jika kita teliti lebih jauh di antara kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan itu merupakan hal yang dianggap lumrah dan remeh oleh orang-orang biasa, terutama pada zaman sekarang, sebagaimana ahli hikmah mengatakan, hasanatul abrar sayyiatul muqarrabin. Oleh karena itu, tak mengherankan jika mereka menjadi pribadi-pribadi yang bukan saja mulia di mata Allah swt, namun di mata manusia mereka adalah permata-permata mahal yang selalu terjaga. Manusia banyak berdatangan kepada mereka untuk mengambil ilmu darinya atau sekedar untuk mendapatkan berkah kesalehannya. Nama mereka pun selalu harum tercatat dalam sejarah dan terabadikan hingga akhir zaman.

2. Memberi contoh.

Sebelum mengajak orang lain tentu seseorang dituntut terlebih dahulu memahami hakekat apa yang akan disampaikannya, kemudian mengaplikasikannya pada dirinya sendiri. Sehingga ketika amalan itu telah mendarahdaging dan menjadi kebiasaannya ia akan menemukan kenikmatan dari amalan itu, sehingga ketika suatu saat amalan itu terlewatkan ia akan merasa kehilangan dan berusaha mencari penggantinya. Dari situ, ia pun akan lebih mudah menyampaikannya kepada orang lain. Manusia pun takkan merasa kesulitan ketika ingin mencocokkan antara ucapan dengan amalannya sehari-hari, karena pada keduanya tak terdapat perbedaan yang jauh. Diriwayatkan bahwa salah seorang di antara ulama salaf tiba-tiba berhenti pada suatu permasalahan fiqh dan menunda menjelaskannya hingga beberapa waktu lamanya, kemudian ia kembali lagi ke majelis ta’lim untuk menjelaskan permasalahan tersebut, ketika ditanya mengapa ia melakukan hal yang demikian ia mengatakan, “Aku takkan menerangkan masalah ini sebelum aku mempraktekkannya”, permasalahan itu adalah masalah membebaskan budak. Ini merupakan strategi dakwah yang paling ampuh, bahkan lebih ampuh daripada sekedar kemampuan berceramah yang baik namun tidak diiringi dengan contoh nyata sehingga ucapannya kontras dengan perbuatannya. Bahkan yang terakhir ini merupakan perbuatan yang dapat mendatangkan murka Allah swt. Konsep ini merupakan konsep Rasulullah saw yang ditanamkan kepada para sahabatnya. Beliau bersabda, “Ibda’ binafsika”. Ya, mulailah dari dirimu sendiri, jangan menunggu orang lain. Terlebih bagi seorang dai yang setiap gerak-gerik dan tingkah lakunya diperhatikan dan menjadi panutan bagi umatnya, tentu akan sangat fatal akibatnya jika umatnya mendapatinya dalam kondisi yang tidak sesuai dengan apa yang selama ini disampaikannya.

3. Mengajak bukan memvonis.

Sebagaimana istilah dakwah itu sendiri diambil, dari kata da’a-yad’u-du’a wa da’wah, yang berarti mengajak atau ajakan, maka bagaimana seorang dai menjadikan bahasa dakwahnya menjadi bahasa ajakan yang bersifat persuasif dan jauh dari kesan menggurui sangat perlu diperhatikan. Memang ada saatnya seseorang harus menggunakan bahasa guru terhadap murid seperti ketika seseorang mengajari anaknya. Namun untuk kondisi masyarakat secara umum bahasa ajakan lebih bisa diterima. Khususnya masyarakat Indonesia yang majemuk, mereka akan merasa lebih senang dengan dakwah yang bersifat mengajak dan mendorong orang untuk berbuat baik, mengingat watak manusia adalah merasa paling tahu dan tidak suka digurui. Biasanya cara ini jarang sekali dipahami oleh para dai pemula. Padahal cara ini memilik pengaruh yang jauh lebih besar dan lebih efektif. Oleh karena itu, pengaturan bahasa ketika menyampaikan sebuah dakwah pun menjadi syarat mutlak. Memang pada kenyataannya seseorang sedang berdiri berceramah, namun jika bahasa yang digunakan adalah bahasa motivasi maka para pendengar pun tidak akan merasa diceramahi sama sekali. Ibarat seorang pedagang yang ingin menawarkan barang dagangannya, ia dituntut untuk bisa meyakinkan pembeli tanpa harus menipu. Kemudian yang harus dihindari oleh seorang dai adalah sikap cepat memvonis. Seorang dai harus memahami posisinya bahwa dirinya adalah seorang penyeru bukan seorang hakim. Oleh karena itu, kapan pun ia menemui sebuah kemungkaran, yang paling pertama ia pikirkan adalah mencari jalan terbaik untuk merubah kemungkaran tersebut, bukan mencela dan menyalahkan orang lain. Kesalahan yang banyak dilakukan oleh para dai adalah mencari pembenaran bagi dirinya sendiri dengan cara memvonis sana dan mencela sini lalu menganggap dirinya paling benar tanpa mau mencari penyebab kemungkaran tersebut serta mencari solusinya.

4. Sampaikan apa adanya.

Yang terakhir ini lebih merupakan amanat bagi seorang pengemban dakwah. Seorang dai harus menyampaikan dakwahnya secara terbuka dan apa adanya. Terbuka artinya tidak menutup-nutupi sebagian pesan dan menyampaikan sebagian lainnya. Sampaikanlah amanat Rasulullah saw itu dengan sempurna, tanpa mengurangi ataupun menambahinya sedikitpun. Sampaikanlah Islam apa adanya, karena Islam merupakan ajaran yang telah sempurna. Ia tak boleh dikurangi dan tak perlu ditambahi. Islam juga merupakan ajaran yang sesuai dengan fitrah manusia, maka tak perlu kita menutup-nutupinya. Sampaikanlah kepada manusia bahwa Islam adalah agama perdamaian, cinta kasih sayang dan persaudaraan. Islam adalah agama yang menjunjung tinggi keadilan dan kesejahteraan. Ia melarang segala macam bentuk kezaliman dan kesewenang-wenangan serta penindasan. Islam adalah agama yang indah dan sesuai hati nurani. Sampaikanlah bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk saling bersopan santun dan saling menghormati. Sampaikan pula bahwa Islam adalah agama kemuliaan, dan kemuliaan Islam itu diletakkan di sebuah puncak tertinggi yang bernama Jihad. Dengan tiang Jihad-lah agama ini sanggup tegak hingga akhir zaman. Dan akan senantiasa ada sekelompok dari umat ini yang memegang panji itu, serta menggenggamnya hingga akhir zaman. Sampaikanlah bahwa Islam ini bisa tegak hingga kini berkat keringat para ulama dan darah para syuhada dan sejarah Islam tercatat dengan dua tinta, tinta emas para ulama dan tinta darah para syuhada. Sampaikan pula bahwa Islam ini tak akan dapat kembali kepada kejayaannya sebelum umatnya kembali kepada agamanya, kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw. Sampaikanlah Islam secara kaffah dan jangan lupa untuk senantiasa berdoa kepada Allah swt, memohon taufik dari-Nya serta bersabar menghadapi badai cobaan dan rintangan yang akan selalu datang silih berganti sebagai sunnatullah. Harapkan selalu ridha Allah swt dan bersihkan hati dari keinginan-keinginan duniawi. Ingat, jalan dakwah bukanlah jalan mulus bertabur bunga di kanan kiri, berhias tepuk tangan dan sorak sorai penonton dan bermahkotakan decak kagum dan pujian. Namun, ia adalah sebuah pendakian terjal penuh onak, duri dan bebatuan tajam. Ia adalah jalan yang menjadikan Rasulullah saw berlumuran darah, kehilangan banyak sahabat dan kerabatnya. Jalan yang menjadikan para nabi dicerca, dihina, disiksa bahkan dibunuh oleh umatnya. Tentu kisah Nabi Nuh, Hud, Shalih, Ibrahim, Luth, Musa, Isa dan masih banyak lagi nabi-nabi lainnya dapat menjadi kisah penghibur hati bagi para peniti jalan mulia ini. Jalan yang memberikan garis pembeda antara orang-orang yang benar-benar beriman dengan yang tidak. Ia adalah jalan seorang mukmin sejati hingga hari kiamat. Wallahu a’lam bis showab.

K E L U A R G A

membentuk keluarga islami

Mayoritas manusia tentu mendambakan kebahagiaan, menanti ketentraman dan ketanangan jiwa. Tentu pula semua menghindari dari berbagai pemicu gundah gulana dan kegelisahan. Terlebih dalam lingkngan keluarga. Ingatlah semua ini tak akan terwujud kecuali dengan iman kepada Alloh, tawakal dan mengembalikan semua masalah kepadaNya, disamping melakukan berbagai usaha yang sesuai dengan syari'at.

Pentingnya Keharmonisan Keluarga Yang paling berpengaruh buat pribadi dan masyarakat adalah pembentukan keluarga dan komitmennya pada kebenaran. Alloh dengan hikmahNya telah mempersiapkan tempat yang mulia buat manusia untuk menetap dan tinggal dengan tentram di dalamnya. FirmanNya: "dan diantara tanda-tanda kekuasanNya adalah Dia mencipatakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan diajadikanNya diantara kamu rasa kasih sayang. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (Ar Rum: 21)

Ya.supaya engkau cenderung dan merasa tentram kepadanya (Alloh tidak mengatakan: 'supaya kamu tinggal bersamanya'). Ini menegaskan makna tenang dalam perangai dan jiwa serta menekankan wujudnya kedamaian dalam berbagai bentuknya.

Maka suami istri akan mendapatkan ketenangan pada pasangannya di kala datang kegelisahan dan mendapati kelapangan di saat dihampiri kesempitan. Sesungguhnya pilar hubungan suami istri adalah kekerabatan dan pershabatan yang terpancang di atas cinta dan kasih sayang. Hubungan yang mendalam dan lekat ini mirip dengan hubungan seseorang dengan dirinya sendiri. Al Qur'an menjelaskan: "Mereka itu pakaian bagimu dan kamu pun pakaian baginya." (Al Baqarah: 187)

Terlebih lagi ketika mengingat apa yang dipersiapkan bagi hubungan ini misalnya; penddidikan anak dan jaminan kehidupan, yang tentu saja tak akan terbentuk kecuali dalam atmosfir keibuan yang lembut dan kebapakan yang semangat dan serius. Adakah di sana komunitas yang lebih bersih dari suasana hubungan yang mulia ini?

Pilar Peyangga Keluarga Islami

1. Iman dan Taqwa
Faktor pertama dan terpenting adalah iman kepada Alloh dan hari akhir, takut kepada Dzat Yang memperhatikan segala yang tersembunyi serta senantiasa bertaqwa dan bermuraqabbah (merasa diawasi oleh Alloh) lalu menjauh dari kedhaliman dan kekeliruan di dalam mencari kebenaran.

"Demikian diberi pengajaran dengan itu, orang yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat. Barang siapa yang bertaqwa kepada Alloh niscaya Dia kan mengadakan baginya jalan keluar. Dan Dia kan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Alloh niscaya Alloh akan mencukupkan keperluannya." (Ath Thalaq: 2-3)

Di antara yang menguatkan tali iman yaitu bersungguh-sungguh dan serius dalam ibadah serta saling ingat-mengingatkan. Perhatikan sabda Rasululloh: "Semoga Alloh merahmati suami yang bangun malam hari lalu shalat dan membangunkan pula istrinya lalu shalat pula. Jika enggan maka dipercikkannya air ke wajahnya. Dan semoga Alloh merahmati istri yang bangun malam hari lalu shalat dan membangunkan pula suaminya lalu shalat pula. Jika enggan maka dipercikkannya air ke wajahnya." (HR. Ahmad, Abu Dawud, An Nasa'i, Ibnu Majah).

Hubungan suami istri bukanlah hubungan duniawi atau nafsu hewani namun berupa interaksi jiwa yang luhur. Jadi ketika hubungan itu shahih maka dapat berlanjut ke kehidupan akhirat kelak. FirmanNya: "Yaitu surga 'Adn yang mereka itu masuk di dalamnya bersama-sama orang yang shaleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya." (Ar Ra'du: 23)

2. Hubungan Yang Baik
Termasuk yang mengokohkan hal ini adalah pergaulan yang baik. Ini tidak akan tercipt akecuali jika keduanya saling mengetahui hak dan kewajibannya masing-masing.

Mencari kesempurnaan dalam keluarga dan naggotanya adalah hal mustahil dan merasa frustasi daklam usha melakukan penyempurnan setiap sifat mereka atau yang lainnya termasuk sia-sia juga.

3. Tugas Suami
Seorang suami dituntut untuk lebih bisa bersabar ketimbang istrinya, dimana istri itu lemah secara fisik atau pribadinya. Jika ia dituntut untuk melakukan segala sesuatu maka ia akan buntu.

Teralalu berlebih dalam meluruskannya berarti membengkokkannya dan membengkokkannya berarti menceraikannya. Rasululloh bersabda: "Nasehatilah wanita dengan baik. Sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk dan bagian yang bengkok dari rusuk adalah bagian atasnya. Seandainya kamu luruskan maka berarti akan mematahkannya. Dan seandainya kamu biarkan maka akan terus saja bengkok, untuk itu nasehatilah dengan baik." (HR. Bukhari, Muslim)

Jadi kelemahan wanita sudah ada sejak diciptakan, jadi bersabarlah untuk menghadapinya. Seorang suami seyogyanya tidak terus-menerus mengingat apa yang menjadi bahan kesempitan keluarganya, alihkan pada beberapa sisi kekurangan mereka. Dan perhatikan sisi kebaikan niscaya akan banyak sekali.

Dalam hal ini maka berperilakulah lemah lembut. Sebab jika ia sudah melihat sebagian yang dibencinya maka tidak tahu lagi dimana sumber-sumber kebahagiaan itu berada. Alloh berfirman; "Dan bergaullah bersama mereka dengan patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka maka bersabarlah Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Aloh menjadikannya kebaikan yang banyak."(An Nisa': 19)

Apabila tidak begitu lalu bagaimana mungkin akan tercipta ketentraman, kedamaian dan cinta kasih itu: jika pemimpin keluarga itu sendiri berperangai keras, jelek pergaulannya, sempit wawasannya, dungu, terburu-buru, tidak pemaaf, pemarah, jika masuk terlalu banyak mengungkit-ungkit kebaikan dan jika keluar selalu berburuk sangka.

Padahal sudah dimaklumi bahwa interaksi yang baik dan sumber kebahagiaan itu tidaklah tercipta kecuali dengan kelembutan dan menjauhakan diri dari prasangka yang tak beralasan. Dan kecemburuan terkadang berubah menjadi prasangka buruk yang menggiringnya untuk senantiasa menyalah tafsirkan omongan dan meragukan segala tingkah laku. Ini tentu akan membikin hidup terasa sempit dan gelisah dengan tanpa alasan yang jelas dan benar.

4. Tugas Istri
Kebahagiaan, cinta dan kasih sayang tidaklah sempurna kecuali ketika istri mengetahui kewajiban dan tiada melalaikannya. Berbakti kepada suami sebagai pemimpin, pelindung, penjaga dan pemberi nafkah. Taat kepadanya, menjaga dirinya sebagi istri dan harta suami. Demikian pula menguasai tugas istri dan mengerjakannya serta memperhatikan diri dan rumahnya.

Inilah istri shalihah sekaligus ibu yang penuh kasih sayang, pemimpin di rumah suaminya dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Juga mengakui kecakapan suami dan tiada mengingkari kebaikannya. Untuk itu seyogyanya memaafkan kekeliruan dan mangabaikan kekhilafan. Jangan berperilaku jelek ketika suami hadir dan jangan mengkhianati ketika ia pergi.

Dengan ini sudah barang tentu akan tercapai saling meridhai, akan langgeng hubungan, mesra, cinta dan kasih sayang. Dalam hadits: "Perempuan mana yang meninggal dan suaminya ridha kepadanya maka ia masuk surga." (HR. Tirmidzi, Hakim, Ibnu Majah)

Maka bertaqwalah wahai kaum muslimin! Ketahuilah bahwa dengan dicapainya keharmonisan akan tersebarlah semerbak kebahagiaan dan tercipta suasana yang kondusif bagi tarbiyah.

Selain itu tumbuh pula kehidupan di rumah yang mulia dengan dipenuhi cinta kasih dan saling pengertian anatar sifat keibuan yang penuh kasih sayang dan kebapakan yang tegas, jauh dari cekcok, perselisihan dan saling mendhalimi satu sama lain. Juga tak ada permusuhan dan saling menyakiti.

Penutup
Lurusnya keluarga menjadi media untuk menciptakan keamanan masyarakat. Bagaimana bisa aman bila ikatan keluarga telah amburadul. Padahal Alloh memberi kenikmatan ini yaitu kenikmatan kerukunan keluarga, kemesraan dan keharmonisannya.

Hubungan suami istri yang sangat solid dan fungsinya sebagai orang tua di tambah anak-anaknya yang tumbuh dalam asuhan mereka, merupakan gambaran umat terkini dan masadepan. Karena itu ketika setan berhasil menceraikan hubungan keluarga dia tidak sekadar menggoncangkan sebuah keluarga namun juga menjerumuskan masyarakat seluruhnya ke dalam kebobrokan yang merajalela. Realita sekarang menjadi bukti.

Semoga Alloh merahmati pria yang perilakunya terpuji, baik hatinya, pandai bergaul (terhadap keluarga), lemah lembut, pengasih, penyayang, tekun, tidak berlebihan dan tiada lalai dengan kewajibannya. Semoga Alloh merahmati pula wanita yang tidak mencari-cari kekeliruan, tidak cerewet, shalihah, taat dan memelihara dirinya ketika suaminya tidak ada karena Alloh telah memeliharanya.

Bertaqwalah wahai kaum muslimin, wahai suami istri. Barang siapa yang bertaqwa kepada Alloh niscaaya akan dimudahkan urusannya. (Syeikh Shalih bin Abdullah bin Al Humaid).

Ketauhidan

Tauhid: Poros "Pandangan Dunia Ilahiah" (ar-ru`yah al-kaumah al-ilâhiah)

Sesuai Dengan prinsip penalaran, kita mengetahui bahwasannya keberadaan sesuatu pasti memiliki sebab-musababnya. Keyakinan dan ketentuan ini sedemikian jelas sampai-sampai jika Anda meniup wajah seorang bayi, sekalipun secara perlahan, ia akan segera membuka matnya serta menengok ke kanan dan ke kiri demi mencari sebab munculnya angin yang menerpa wajah mungituya.

la mengetahui bahwa hembusan angin tersebut berasal dari suatu sumber tertentu. Ya, masalah adanya bekas atau jejak yang menunjukkan adanya sesuatu yang membuat bekas atau jejak tersebut, merupakan suatu masalah yang teramat jelas dalam kehidupan kita. Di seluruh pengadilan, keberadaan bekas atau jejak acapkali mampu mengungkap fakta suatu kasus. Apabila terdapat lukisan seekor burung merak atau ayam jantan, kita bisa memastikan bahwa untuk itu ada yang menggambar atau melukisnya.

Akan tetapi, mungkinkah hagi kita untuk membayangkan bahwasanya keberadaan hurung merak dan ayam jantan itu sendiri tidak memiliki perancang dan penciptanya? Bagaimana kita dapat meyakinkan akal kita kalau sebuah kamera saja ada yang membuatnya, sementara mata manusia tidak dibuat oleh pencipta yang memiliki perasaan?

Padahal, kita mengetahui dengan pasti bahwa dalam hal pengamhilan gambar, kemampuan mata kita jauh lebih sempurna daripada sebuah kamera. Setelah beberapa kali melakukan pengambilan gambar, sebuah kamera harus mengganti negatif filmnya dengan negatif film yang baru.

Sementara mata kita tiada henti-hentinya mengambil gambar tanpa perlu mengganti negatif film. Sebuah kamera biasanya hanya bisa mengambil gambar hitam-putih atau berwarna, sedangkan mata kita dapat mengambil gambar berbagai benda dalam berbagai wama, hitam-putih, berwama, dari jarak dekat maupun jauh, di bawah pancaran sinar matahari atau terlindung darinya.

Dengan demikian, mungkinkah akal kita dapat menerima pandangan bahwa anggota tubuh bagian permukaan diciptakan oleh sang pencipta, sementara bagian organ pencernaan tidak?! Kita meyakini bahwa keteraturan yang terdapat pada diri seseorang mencerminkan adanya perasaan dalam dirinya. Lalu, apakah keteraturan yang berlangsung di alam semesti ini tidak merefleksikan adanya (pencipta yang memiliki) perasaan? Bagaimanakah mereka bisa menggantikan (pencipta alam ini) dengan berbagai sebab-sebab serta hukum-hukum alam? Padahal kita mengetahui bahwa hanya untuk mengetahui hakikat keberadaan dari salah satu saja dari hukum-hukum alam tersebut, seorang cendekiawan sampai harus menghabiskan waktunya selama berpuluh-puluh tahun!

Ringkasnya, apabila ciri-ciri utama yang melekat pada "Pandangan Alam" terbaik selaras dengan pendapat akal, maka sejak kali yang pertama, akal kita telah menyaksikan adanya sistem (keteraturan) serta perhitungan yang rinci di jagat alam ini, sekaligus memberi keyakinan bahwa alam semesti merupakan hasil ciptaan suatu kekuatan yang memiliki perasaan. Melalui rumus akal itulah, Allah memberikan sederet jawaban atas berbagai keraguan yang mendera. Setelah melakukan observasi terhadap alam semesti dan mengetahui adanya berbagai keteraturan serta perhitungan yang amat hnci di dalamnya, kita niscaya akan terbawa ke dalam pandangan Ilahiah. Inilah suatu pertanda adanya kebenaran dalam cara memandang dan berpikir.

Pertanda lain yang menunjukkan kebenaran "Pandangan Dunia Ilahiah" adalah kesesuaiannya dengan keberadaan fitrah. Dalam hal ini, saya akan menjelaskan terlebih dahulu kepada saudara-saudara sekalian, makna dari fitrah, sehingga ketika saya menyinggung masalah pengenalan tuhan secara fitriah, kita sudah memiliki bekal pengetahuan yang memadai.

Penafsiran Fitrah

Istilah fitrah identik dengan kata khilqahi, yang memiliki arti "ciptaan"; suatu bentuk perasaan yang terdapat dalam diri manusia yang dalam perwujudannya tidak memerlukan latihan serta pengajaran dari seorang pendidik atau pengajar, dan perasaan tersebut senantiasa bersemayam dalam jiwa seluruh manusia di pelbagai tempat dan masa. Perasaan tersebut terkadang disebut fitrah, dan terkadang pula disebut gharîzah (insting).

Alhasil, insting merupakan perasaan serta berbagai kecenderungan yang Selain terdapat dalam diri manusia, juga terdapat pada hewan. Tentunya jelas bahwa salah satu pertanda bahwa sesuatu hal bersifat fitriah ialah apabila keberadaannya bersifat universal.

Misalnya, kecintaan seorang ibu terhadap anaknya yang merupakan sesuatu yang bersifat fitriah; perasaan kasih sudah tertanam dalam jiwa sang ibu, sehingga untuknya tidak diperlukan bimbingan atau pengajaran. Dan hal itu juga bersifat universal.

Dalam arti, apabila Anda rnenelusuri pelbagai tempat dan masa, pelbagai bentuk dan sistem pemerintahan, Anda tentu akan menjumpai kecintaan seorang ibu terhadap anaknya. Akan tetapi, terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan kuat dan lemahnya perasaan (fitrah) tersebut.

Boleh jadi suatu perasaan yang terdapat dalam jiwa seseorang berhasil mengalahkan perasaan yang lain. Misalnya saja dalam diri manusia terdapat rasa cinta terhadap harta, kesenangan, atau keselamatan. Akan tetapi, bobot dan masing-masing bentuk perasaan yang terkandung dalam diri setiap individu tersebut tidaklah sama persis.

Sebagian orang akan rela mengorbankan nyawa demi hartanya, sementara sebagian lainnya akan rela mengorbankan harta demi nyawanya. Sebagaimana pernah terjadi pada suatu masa, seorang ayah yang demi mempertahankan harga diri (dikarenakan anggapan yang berkembang waktu itu bahwa memiliki anak perempuan merupakan suatu kehinaan dan cela) sampai-sampai harus memutuskan rasa cintanya kepada anak (perempuan)nya.

Kemudian dengan tangannya sendiri, ia tega mengubur hidup-hidup anak itu. Karena itu, keberadaan fitrah tidak meniscayakan semua manusia memiliki sikap yang sama. Sebabnya, banyak sekali fitrah yang tertutupi fitrah yang lain. Salah satu hal yang dihasilkan fitrah ialah rasa bangga diri. Seseorang yang berjalan di garis fitrah, akan memiliki jiwa yang tenang. Seorang ibu yang menggendong putranya akan merasa bangga, sampai-sampai ia akan marah ketika menyaksikan seorang ibu yang tidak mengasihi anaknya sendiri. Ya, rasa bangga dan marah tersebut merupakan bentuk sikap yang dihasilkan oleh fitrah.

Sekarang, marilah kita saksikan bersama, apakah pengenalan terhadap Tuhan merupakan sesuatu hal yang bersifat filrah ataukah bukan?

Kita akan bertanya kepada setiap manusia yang ada di setiap tempat, masa, serta pemerintahan, "Apa yang kalian rasakan dalam kehidupan di alam semesti ini?" Apakah kalian merasa bahwa diri kalian benar-benar bebas? Ataukah kalian merasakan bahwadalam diri terdapat suatu keterikatan?

Tak seorangpun yang mengatakan, "Di alam semesti ini saya benar-benar merasa bebas." Setiap orang pasti akan merasakan bahwa di dalam dirinya terdapat suatu ikatan. Namun, perasaan yang benar semacam ini bisa terpenuhi dalam dua bentuk:

1. Perasaan yang henar dan dipenuhi dengan cara yang benar.

2. Perasaan yang benar dan dipenuhi dengan cara yang keliru (kebohongan).

Seumpama, seorang bayi yang menangis karena merasa lapar. Perasaan lapar tersebut merupakan sesuatu yang benar. Namun terkadang, pemenuhan tuntutan perasaan tersebut dilakukan dengan cara menghisap susu ibunya yang penuh dengan air susu.

Tentunya, pemenuhan semacam ini dilakukan dengan cara yang benar. Namun, terkadang pemenuhan perasaan tersebut dipenuhi dengan cara menghisap puting susu plastik tiruan (dot). Sebagaimana dikemukakan bahwa dalam diri manusia benar-benar terdapat rasa keterikatan. Akan tetapi, keterikatan pada apa?

1. Pada kekuatan Allah?

2. Pada kekuatan alam?

Keberadaan alam sendiri memiliki keterikatan terhadap ratusan sebab dan akibat. Dengan demikian, kita mesti mengikatkan diri kita dengan suatu kekuatan yang tidak lagi terikat sebagaimana diri kita.

Misi Para Nabi

Misi para nabi ditujukan untuk menjaga agar perasaan manusia yang pada hakikatnya bersifat lembut tidak sampai dijejali berbagai modus kebohongan (kekeliruan). Sebagaimana seorang ibu atau seorang pengasuh yang tidak akan pernah membiarkan seorang anak yang lapar—demi menghilangkan rasa laparnya—menyantap makanan secara sembarangan. Sejarah menunjukkan bahwa mereka yang tidak berada di bawah bimbingan para nabi akan terjerumus ke dalam berbagai macam khurafat (penyelewengan).

Apakah Perbudakan Bertentangan dengan Kebebasan Manusia?

Kadang kala, terbayang dalam benak kita bahwa ajakan pari nabi serta berbagai mazhab samawi untuk menyembah Allah semata merupakan perbuatan yang bertentangan dengan kebebasan manusia.

Namun, perlu diperhatikan bahwa susunan tubuh manusia telah diciptakan sedemikian rupa, sehingga manusia tidak dapat hidup tanpa cinta, kasih, peribadahan, serta harapan. Rasa cinta dan kegemaran dalam beribadah telah tertanam dalam jiwa manusia. Dan, jika perasaan tersebut tidak ditundukkan di bawah bimbingan para nabi, akibatnya manusia akan menjadi penyembah patung berhala, benda-benda langit, sesamanya, serta para pemimpin yang zalim.

Karena itu, perbudakan dan peribadahan kepada Allah merupakan suatu cara pemuasan yang benar, yang menghalangi berbagai bentuk pemuasan semu (keliru), sekaligus menyelamatkan jalur cinta dan peribadahan dari pelbagai penyimpangan.

Pandangan Alam Ilahiah dan iman kepada Allah berakar pada keberadaan fitrah. Perasaan serta keterikatan pada kekuatan adikodrati yang tidak terbatas, sudah tentu terdapat dalam jiwa setiap manusia. Namun demikian, sekalipun seseorang bisa memastikan adanya kekuatan tidak terbatas itu, ia boleh jadi mengalami kekeliruan dalam hal menentukan kekuatan manakah yang bersifat llahi dan mana yang bersifat alamiah.

Alhasil, perasaan dan huhungan semacam itu benar-benar ada. Karena itu, Pandangan Dunia Ilahiah meyakini bahwa seluruh keberadaan di jagat alam terikat dengan suatu kekuatan adikodrati tanpa batas dan memiliki perasaan, dan ini sesuai dengan fitrah manusia. lnilah bukti lain yang berkenaan dengan kebenaran.

Pandangan Dunia Ilahiah

Tanda ketiga yang melekat pada suatu pandangan yang paling komprehensif ialah melahirkan rasacinta, harapan, serta tanggungjawab dalam diri manusia.

Pabila seorang pelajar yang ada di sebuah sekolah mengetahui bahwa berbagai usahanya tidak akan sia-sia, seperseratus dari nilainya akan diperhitungkan, dan seluruh alasan yang masuk akal akan diterima, tentu akan terus belajar dengan semangat yang luar biasa.

Berkat Pandangan Dunia Ilahiah, manusia akan memiliki keyakinan bahwa setiap detik dari kehidupannya senantiasa berada di bawah pengawasan Allah. Dengan pandangan tersebut, setiap alasan keberadaannya juga akan diterima, perbuatan baik dan buruknya sekecil apapun—tidak akan diabaikan bahkan perbuatan baiknya akan dibeli Allah, harga dari nyawa dan hartanya akan dibayar oleh kenikmatan surgawi, dan memiliki keyakinan bahwa pada satu sisi dirinya acapkali memperoleh pertolongan gaib, sementara pada sisi yang lain memperoleh sarana pendidikan yang bebas dari keraguan, kekeliruan, serta kealpaan.

Ala kulli ha, semua itu merupakan pelita harapan yang paling benderang yang menerangi hati manusia.

Bagaimanakah Bentuk Iman dan Kecenderungan yang Berharga?

Dalam al-Quran terdapat berbagai kritikan atas berbagai bentuk iman serta kecenderungan yang dimiliki manusia:

1. Berbagai kecenderungan yang bersifat musiman (angin-anginan). Sebagai contoh. seseorang yang pada suatu ketika merasakan dirinya tengah berada dalam bahaya, di mana kapal yang ditumpanginya akan tenggelam.

Pada saat itu, ia segera menyebut, "Yaa Allah." Akan tetapi, begitu terlepas dari kesulitan tersebut, dan dirinya melihat bahwa kapal yang ditumpanginya tengah mendekati pantai, seketika itu pula ia kembali menyerahkan dirinya kepada Selain Allah; berbuat syirik.

2. Dalam Al-Quran kita membaca ayat ini: “Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan niat ketaatan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelematkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka kembali mempersekutukan (Allah)” (al-Ankabût: 65)

3. Keimanan serta kecenderungan ikut-ikutan terhadap keyakinan urang tua dan para pendahulu. Kecenderungan semacam ini biasanya tidak didasari argumentasi atau dalil yangrasional.

Keimanan ini mirip dengan keimanan yang dimiliki para penyembah berhala. Tatkala menjawab pertanyaan para nabi, mereka mengatakan, "Keyakinan kami dalam menyembah berhala ini diwarisi dari para pendahulu kami." Berkenaan dengan ini, al-Quran mengatakan, “Mereka menjawab, ‘(Bukan karena itu), sebenarnya kami mendapati nenek moyang berbuat demikian” (asy-Syu’arâ`: 74)

4. Keimanan dan kecenderungan yang hanya bersifat kulit belaka dan belum menembus ke dalam lubuk hati, ruh, serta jiwa.

Al-Quran mengatakan, "Sekelompok orang-orang Arab datang menemui Rasul saww dan mengatakan, “Kami semua telah beriman”.

Kemudian Allah berfirman kepada Nahi saww, “Katakanlah kepada mereka, “Keimanan kalian sekarang ini masih belum membekas dalam hati kalian. Kalian hanya sekedar mengungkapkan rasa keimanan saja’. Orang-orang Arab Badui itu berkata, ‘kami telah beriman’, Katakanlah (kepada mereka), ‘Kamu belum beriman, tapi katakanlah, ‘Kami telah tunduk’, karena iman itu berlum masuk ke dalam hatimu”. (al-Hujurât: 14)

5. Keimanan yang kosong dari amal perbuatan yang baik. Orang yang memiliki keimanan ini adalah orang yang berpengetahuan namun enggan mengamalkannya. Dalam al-Quran, terdapat banyak sekali kecaman terhadap orang-orang semacam ini.

Manakah Bentuk Keimanan yang Bernilai?

Dalam al-Quran disebutkan bahwa iman yang bernilai dan berharga harus didasari pada pemikiran serta pertimbangan rasional terhadap berbagai ciptaan. Kita membaca dalam al-Quran; “... dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia” (Ali Imrân: 191)

Hasil-hasil Keimanan Terhadap Allah

1. Munculnya perasaan cinta dan semangat.

Seseorang akan mengetahui secara pasti bahwa seluruh perbuatannya senantiasa berada di bawah pengawasan Allah, sembari meyakini pula bahwa tak satupun dari amal perbuatannya akan musnah, dan semua usahanya akan diganjar Allah dengan surga dan ridhwân (kerelaan Allah).

Bahkan, sekalipun ia hanya memiliki niat semata dan tidak berusaha, Allah tetap akan menganugerahkan paHala dan ganjaran kepadanya. Seseorang yang mengetahui semua itu pasti akan menjalani kehidupan yang penuh dengan semangat dan cinta.

2. Menjauhkan diri dari tipu muslihat, kehinaan moral, dan pelecehan hak.

Seseorang yang menyadari bahwa diri serta perbuatannya berada di bawah pengawasan serta kekuasan Allah, tidak akan melakukan berhagai bentuk penipuan.

3. Keagungan.

Seseorang yang bersedia menjadi hamba-Nya, tidak akan bersedia tunduk pada kekuatan lain. la akan memandang seluruh kebciadaan Selain-Nya sama seperti dirinya yaku hanya sebagai hamba.

4. Tidak akan melakukan pekerjaan yang merugikan.

Dikarenakan setiap perbuatan baik yang dikerjakannya akan mendapat pahala serta ganjaran yang kekal dan abadi, ia tidak akan pernah bersandar kecuali kepada-Nya, dan senantiasa menjauhkan diri dari berbagai kecenderungan kepada Selain-Nya.

5. Merasakan ketenangan jiwa.

Di sini kita akan melihat berbagai faktor penyebab munculnya rasa gelisah dan guncanganjiwa. Darinya, kita dapat menyaksikan dengan jelas bagaimana keimanan kepada Allah mampu menciptakan ketenangan dalam jiwa.

Faktor-faktor Penyebab Guncangan Jiwa

1. Adakalanya guncanganjiwa dan rasa gelisah timbul akibat keadaan yang dialami di masa lalu. Pada umumnya, hal itu berkaitan dengan berbagai kekeliruan yang dilakukan pada masa silam.

Akan tetapi, dengan mengingat serta menyebut nama AllahYang Mahapengasih lagi Mahapemurah, keadaan jiwa semacam itu niscaya akan berubah. Dari serba gelisah menjadi penuh dengan ketenangan. Sebabnya. Dia maha mengampuni berbagai kekeliruan dan perbuatan dosa, dan Dia juga Mahapenerima tobat.

2. Adakalanya guncangan jiwa serta kegelisahan bersumber dan rasa terasing (kesendirian). Dalam hal ini, keimanan kepada Allah Yang Maha Ada dan Maha Menyaksikan, akan mengubah semua itu menjadi penuh ketenangan den ketenteraman. la menyenangkan dan disenangi; la mendengar suaraku; la menyaksikan segenap perbuatanku; la mengasihi dan menyayangi diriku.

3. Adakalanya guncangan jiwa terjadi akibat adanya anggapan bahwa kehidupan dirinya tidak memiliki arti apa-apa serta nihil dari tujuan. Akan tetapi, dengan keimanan kepada Allah yang Mahabijaksana, yang telah menciptakan segala sesuatu di jagat alam ini berdasarkan pada kebijakan dan masing-masingnya memiliki tujuan, kadar, dan masa yang telah diperhitungkan secara cermat dan rinci, berbagai bentuk guncangan jiwa semacam itu niscaya akan lenyap.

4. Adakalanya rasa gelisah dan guncangan jiwa tersebut muncul dikarenakan seseorang tidak berhasil menyenangkan semua orang. la merasa sedih, "Mengapa si fulan atau golongan fulan merasa kecewa kepadaku?" Akan tetapi, sesuai dengan prinsip keimanan bahwa kita hanya diharuskan untuk membuat Allah rela dan senang, di mana keagungan serta kehinaan hanya berada dalam genggaman-Nya, seluruh kegelisahan dan guncangan tersebut akan pudar.

Berkenaan dengan itu, al-Quran mengatakan, “... Ingatlahm hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram”. (ar-Ra’d: 28) (ketahuilah, dengan mengingatdan menyebut nama Allah, hati akan menjadi tenteram). Semua itu merupakan suatu kenyataan yang tak bisa dipungkiri.

Berbagai Dampak dari Kekosongan Iman

Seseorang yang tidak beriman kepada Pencipta alam, Tuhan Yang Mahabijaksana, pada dasarnya:

1. Tidak memiliki prinsip dan tujuan hidup. Baginya, kehidupan hanyalah ditujukan untuk meraih kebahagiaan yang bersifat material. Keberadaan orang semacam ini tak ubahnya seekor hewan!!

2. Setiap aktivitas yang dilakukannya diyakini bersifat paksaan belaka (baik oleh masyarakat maupun kasta).

3. Rumah masa depannya adalah kebmasaan. Sebabnya, ia tidak meyakini adanya kehidupan pasca kematian serta adanya kekekalan ruh.

4. Para pembimbingnya terdiri dari orang-orang zalim. Selain itu, ia tunduk di bawah kemauan hawa nafsu.

5. Ruang kehidupannya (dikarenakan tidak meyakini adanya wahyu dan keberadaan para nabi yang maksum) sarat dengan berbagai keragu-raguan, keterbatasan, kekurangan, dan kekeliruan.

6. Mengalami kebingungan yang luar biasa dalam upayanya memahami eksistensi alam ini. la sama sekali tidak mengetahui, kenapa dirinya terlahir ke alam ini? Mengapa kemudian setelah itu dirinya pergi entah ke mana? Dan apa sebenarnya tujuan kehidupan ini?

Seluruh pemikirannya hanya tertumpu pada, "Bagaimanakah cara meraih kehidupan duniawi yang lebih baik." Bukannya pada, "Apakah tujuan kehidupan ini?" Ya, demikianlah sejumlah karakter khas dari seseorang yang nihil dari Pandangan Dunia Ilahiah dan akidah Islam. Dengan membandingkan wajah orang beriman kepada Allah dengan wajah orang tidak beriman kepada Allah, Anda dapat mengetahui dengan jelas fungsi penting dari sebuah keimanan.

Penjelasan Kaum Materialis Tentang Mazhab

Setelah kita mengetahui sebab-sebab serta akar keimanan kepada Allah, terdapat dua hal yang terkait dengannya:

1. Akal

2. Fitrah

Akal manusia akan mengatakan bahwa setiap sesuatu yang eksis harus ada yang meneiptakan (mengeksiskan). Di mana dan kapan saja kita menyaksikan adanya keteraturan dan kerapihan, kita pasti akan mengetahui bahwa untuk itu terdapat sesuatu yang mengatur serta merapihkan.

Demikian juga, fitrah mengatakan bahwa setiap jiwa manusia memiliki hubungan dengan sebuah kekuatan adi-kodrati. Namun, terdapat. pula sekelompok orang yang tidak menghiraukan kedua faktor tersebut. Dan berkenaan dengan keberadaan mazhab, mereka memberikan berbagai penjelasan yang menggelikan.

Sejumlah argumentasi yang mereka lontarkan telah saya kemukakan di celah-celah pembahasan ini, meskipun masih bersifat global. Sementara untuk lebih mengetahuinya secara lebih mendetail, saya persilahkan Anda merujuk buku Ushûl al-Falsafah jilid V atau juga sejumlah buku lainya yang membahas topik "Mengenal Allah" (ma’rifatullâh).

MANAGEMENT,ORGANISASI DAN KEPEMIMPINAN

Maha kuasa Tuhan Allah SWT. Yang menciptakan manusia yang begitu sempurna dari pada makhluk lain. Manusia diciptakan dengan penuh fasilitas yang tepat dan sesuai dengan porsinya, diciptakan manusia dengan diberi fasilitas akal, jiwa, dan fisik yang kesemuanya bisa saling bersinergi dan tetap menjalankan tugas masing-masing yang telah diberikan.
Demikian juga dengan fasilitas lain yang diberikan seperti mata yang di tempatkan di atas-depan, dua telingah masing-masing kiri dan kanan, dua kaki masing-masing posisi di bawah, kepala sebagai symbol pemimpin ditempatkan pada posisi atas, dua tangan di tengah-tengah masing-masing kiri dan kanan dengan kemampuan menjangkau seluruh bagian tubuh.

Kesemuanya menjalankan amanah sesuai dengan job dan atau fingsi yang diberikan. Walaupun perbedaan job yang diberikan namun tetap saling bekerja sama, bahwasan dalam kondisi tertentu, terkadang yang satu dapat menjalankan fungsi yang lainnya, tanpa pamrih.

Kita tidak dapat membayangkan sekiranya Allah SWT. Menciptakan manusia dengan menempatkan; kepala di kaki atau sebaliknya kaki di kepala, yang lebih ironis lagi sekiranya mata di ujung telunjuk, atau lubang hidung menghadap ke atas!!! Kesemua itu, Allah SWT yang dengan kekuasaannya tidak ada yang luput darinya, semuanya dapat terjadi atas kehendaki-Nya.

Kesempurnaan yang di miliki manusia tersebut, maka pantaslah manusia diberikan gelar “raja mahluki”, Namun ketika amanah itu tidak dijalankan sebagai mestinya maka manusia akan lebih hina dari pada binatang dengan gelar “asfala saafiliin”

Dengan demikian bagaimana menjalankan oranganisasi sebagaimana gambaran yang ada pada tubuh manusia yang sempurna penciptaannya ?

Managemen organisasi sebagaimana yang kita pahami secara umum merupakan kelompok manusia yang berhimpun dan bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan bersama. Diskursus tentang managemen organisasi ada tiga unsur yang sulit dipisahkan (three in one) keberadaannya, tanpa ketiga tersebut maka tidak akan berjalan dengan baik sebagaimana mestinya, ketiga hal tersebut yaitu: organisasi, manajemen, dan kepemimpinan.
Guna memahami dari ketiga tersebut, di bawah ini dapat dilihat masing-masing gambarannya, yaitu

A. Organisasi
1. Organisasi adalah suatu kumpulan manusia atau kelompok yang bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu.
2. Organisasi mempunyai struktur atau hierarki jabatan, baik vertikal maupun horisontal.
3. Dalam jabatan ada job description, tugas, wewenang, dan tanggung jawab tiap-tiap jabatan.
4. Dalam susunan anggota organisasi ada atasan dan bawahan (hierarki) yang dinamakan pimpinan dan anak buah (bawahan).
5. Organisasi mempunyai sumber-sumber dana, fasilitas, dan tata cara penggunaannya.
6. Organisasi bentuknya bisa formal (mempunyai legalitas) atau informal

B. Manajemen
1. Manajemen adalah mengerjakan sesuatu melalui orang lain (doing things through other people).
2. Manajemen adalah “do things right” (efisien) dan “do the right things” (efektif).
3. Manajemen adalah melakukan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi untuk pencapaian tujuan organisasi.
4. Manajemen memanfaatkan sumber-sumber berupa SDM, alat produksi, modal, metode, outsourcing, bahan baku, pasar, informasi, network,

C. Pemimpin
1. Pemimpin ada dalam kelompok manusia atau organisasi.
2. Pemimpin adalah pucuk pimpinan organisasi atau suborganisasi, dan mempunyai anak buah, bawahan, subordinat, atau pengikut
3. Dengan visinya, pemimpin harus dapat membawa atau mengerahkan anak buahnya secara bersama-sama dalam suatu jalinan kerja yang kompak dan terpadu untuk mencapai tujuan organisasi.
4. Pemimpin dalam organisasi mempunyai kedudukan formal-artinya ada tugas, wewenang, dan tanggung jawab formal, tetapi harus pula dapat bertindak secara informal melalui pendekatan kemanusiaan dengan para anak buahnya untuk memberikan dukungan-dukungan moril dan motivasi sehingga moral, prestasi, produktivitas anak buah selalu meningkat.
5. Dalam tingkat kualitas dan prestasi tertentu, seorang pemimpin sebagai individu dapat melekat atau selalu diasosiasikan dengan organisasi yang ia pimpin sebagai pengakuan atas prestasi pemimpin tersebut. Artinya, mendengar organisasi akan teringat pemimpinnya atau mendengar pemimpin akan teringat organisasinya.

Untuk mencapai tujuan bersama dalam sebuah organisasi, maka tidak hanya karena organisasi tersebut besar secara struktural, ternama, punya founding yang jelas, power yang hebat, namun juga diperlukan adanya:
1. pembagian kerja di dalam organisasi berupa struktur organisasi dan deskripsi kerja. Ada hierarkhi yang disebut atasan dan bawahan, ada pangkat dan jabatan,
2. rencana kerja baik jangka pendek maupun jangka panjang
3. taktik dan strategi dalam mencapai tujuan kelompok dan organisasi
4. dukungan lahir dan bathin dari pemimpin pada anak buahnya berupa loyalitas, demikian pula sebaliknya berupa kepatuhan agar ada kesatuan jiwa
5. pembinaan yang berkelanjutan dari pemimpin kepada pengikut.
6. persatuan dan kesatuan harus selalu dijaga dalam kelompok atau organisai, agar selalu kompak, solid, dan menjaga keharmonisan di atara anggota organisasinya.
7. semangat, moral serta motivasi yang tinggi dari seluruh anggota kelompok atau organisasi, agar tumbuh tekad kebersamaan.
8. figure pemimpin sebagai tauladan dan mengayomi bagi anak buahnya, agar timbul moral, ketenangan, dan lahir bathin pada anak buahnya.
9. pemimpin harus dapat mengatasi konflik anggota kelompok dengan bijak dan sebaik-baiknya, konflik harus menjadi konstruktif bukan destruktif.
10. pemimpin harus dapat membuat keputusan-keputusan dengan cepat dan tepat sasaran dalam segala situasi apakah situasi normal ataupun pada situasi kritis dan krisis.

Rendahnya Kepiawaian kepemimpinan nasional saat ini baik di pemerintah maupun di sektor swasta. Memang harus diakui kepemimpinan karena di era Orde Baru mulai akhir tahun 1980-an sampai sekarang banyak menggunakan pendekatan otoriter dan sangat mendidik manusia Indonesia menjadi bermental bebek yang hanya mengiyakan, berteriak, selalu minta petunjuk, dan bekerja berdasarkan asal selamat.


Setelah krisis ekonomi pada akhir 1997, mulai terkuak bagaimana sulitnya bawahan melepaskan diri dari kebiasaan tergantung kepada pimpinan. Sebaliknya, sang pemimpin juga tidak menyadari bahwa dia bukan yang selalu benar dan segala sesuatu tidak harus terus di bawah kendalinya. Kalau kita tidak melakukan suatu perubahan mendasar, kita akan semakin sulit untuk keluar dari situasi ini. Sumber: Ariwibowo Prijosaksono & Ping Hartono, 2002, :x iii-xiv.)

Tidak bisa dipungkiri bahwa di Indonesi dan demikian juga di Negara lain jutaan organisasi yang terlahir dengan semboyang masing-masing. Baik organisasi formal maupun non formal. Namun juga tidak dapat mencapai tujuan dan cita ideal sebagaiman yang diharapkan sebelum dibentuk. Tentu hal tersebut bukan hanya karena factor organisasi dan managemennnya yang kurang baik, akan tetapi juga kegagalan orang –orang yang memimpin, berikut di bawah ini beberapa sumber kegagalan dalam memimpin suatu organisasi, yaitu :


1. pemimpin selalu menempatkan diri hanya pada kedudukan formal sebagai pimpinan saja. Akibatnya, banyak mengandalkan kepada kekuasaan formal saja, tanpa memperhatikan hubungan kemanusiaan dengan anak buah. Biasanya, pemimpin seperti ini kalau sudah tidak menjabat lagi, tidak akan dihormati atau dipedulikan mantan anak buahnya. Hal inilah biasanya yang menyakitkan para mantan pemimpin seperti itu. Ingat, kepemimpinan adalah hubungan sesama manusia, bukan hubungan dengan benda mati atau robot.


2. Tidak mampu membangun team work, sehingga sulit untuk mengarahkan anak buah dalam suatu kesatuan atau sinergi untuk mencapai tujuan dengan efektif dan efisien. Hal itu disebabkan karena anggota tim tidak mempunyai motivasi dan spirit yang tinggi dalam kebersamaan di dalam kelompoknya dalam proses mencapai tujuannya. Pemimpin seperti ini akan membingungkan anak buahnya


3. Hanya ingin dilayani. Padahal, pemimpin juga sebaiknya mau melayani anak buahnya. Namun, karena pengaruh sifat feodalisme yang sangat kental pada bangsa ini, banyak pemimpin yang hanya ingin dilayani, seolah-olah hanya dia yang berhak dilayani, bahkan anak buahnya juga harus memberikan upeti. Oleh sebab itu, ingatlah akan ungkapan “pemimpinmu adalah pelayanmu”. Melayani anak buah itu memang berat, tetapi inilah salah satu konsekuensi menjadi pemimpin


4. Tidak mau menanggung risiko. Akibatnya, anak buah dikorbankan dan menjadi kambing hitam jika terjadi suatu kesalahan. Perlu diingat, dalam pepatah militer “Tidak ada prajurit yang salah; yang salah adalah komandannya”. Pemimpin harus mau berkorban untuk melindungi anak buahnya, bukan hanya mencari selamat sendiri. Akibatnya pemimpin seperti ini akan dibenci anak buahnya


5. Tidak mampu memberikan motivasi kepada anak buah agar tumbuh semangat team work yang kompak dan solid untuk menjadi tim unggul. Bersifat masa bodoh pada anak buahnya-anak buah mau pintar atau bodoh terserah masing-masing tetapi ia bersikap reaktif. Tidak mau mendengar usulan-usulan atau gagasan-gagasan dari bawahan, tetapi kalau terjadi kesalahan maka anak buahnya akan disalahkan dan dimarahi habis-habisan. Kalau ada usulan atau gagasan yang baik dari anak buah akan ditolak, tetapi nanti usulan tersebut kalau ternyata baik akan dimanfaatkan, seolah-olah merupakan hasil pemikirannya sendiri.


6. Menghendaki loyalitas dari anak buah atau bawahan sebaliknya pemimpin tersebut tidak loyal pada anak buah, tidak memperhatikan kebahagiaan dan tidak memelihara semangat anak buah. Loyalitas yang benar itu harus dua arah,


7. Banyak pemimpin yang dikelilingi oleh para penjilat, pembisik, pembebek, berjiwa budak, punakawan, oportunis, yes-man, munafik yang bersikap ABS (asal bapak senang, dan koruptor, sehingga pemimpin kehilangan objektivitasnya dalam mempertimbangkan sesuatu dan dalam membuat keputusan-keputusan.


8, Tidak bisa menempatkan diri sebagai panutan dengan keteladanan dalam perbuatan. Padahal, seorang pemimpin harus berkata “Do as I do”, bukan “Do as I say”.


9. Anggapan bahwa kedudukannya seolah-olah bias ditempati seumur hidup, sudah duduk lupa berdiri, bahkan merasa kedudukannya bisa diwariskan kepada anaknya, sehingga lupa bahwa kinerja organisasi yang jelek bisa mernbuat seorang pemimpin jatuh atau diberhentikan. Semakin tinggi kedudukan atau jabatan, semakin banyak orang yang menyoroti tingkah laku pemimpinnya. Selarna menjadi pemimpin ia hanya menikmati kedudukan dengan berbagai fasilitas yang dapat dinikmatinya, dan melakukan korupsi untuk memperkaya diri sendiri. Inilah pemimpin yang celaka. Begitu jatuh, pemimpin seperti ini akan disoraki anak buahnya.


10. Pemimpin yang memang tidak pintar. Garis tangan nasiblah yang membuat ia bisa menduduki jabatan tertentu meskipun sebenarnya ia tidak layak menjadi pemimpin. Bisa saja jabatan itu didapat karena kedekatan dengan atasannya, atau dengan cara-cara yang tidak elok seperti menyogok, menjilat, memfitnah, menempel, menghambakan diri pada atasan, menjelekkan orang lain, melakukan praktik perdukunan, dan lain-lain. Di Indonesia masih ada pemimpin seperti ini dan rasakanlah akibatnya, negara kita sulit maju. Atau bisa saja karena belum mantapnya demokrasi dan hukum di Indonesia dalam praktik di lapangan, sehingga kecemasan Socrates di Athena dulu dan kaum intelektual zaman ini terbukti, bahwa demokrasi memungkinkan orang-orang dungu akan memerintah orang-orang pintar

Oleh : PATAWARI, S.Hi., M.H.