Berdakwah merupakan kewajiban setiap muslim. Setiap orang yang telah mengikrarkan dua kalimat syahadah memikul tugas untuk menyampaikan kebenaran yang telah diyakininya kepada orang lain. Karena hakekat dakwah adalah menunjukkan jalan menuju kebenaran. Ibarat seorang musafir tentu ia membutuhkan petunjuk dalam perjalannya agar sampai di tujuan tanpa tersesat. Maka para rasul pun diutus ke bumi untuk menunjukkan umatnya jalan menuju kebenaran. Dan kewajiban ini terus menerus dibebankan kepada umatnya setelah wafatnya.
Dakwah bukanlah sebuah profesi yang hanya dilakukan sebagian orang saja sebagaimana dipahami banyak orang. Namun ia merupakan manifestasi keimanan setiap orang yang mengaku muslim. Memang untuk dapat menyampaikan dakwah kepada umat secara baik dan benar seseorang dituntut untuk memiliki kapasitas keilmuan yang memadai di samping faktor-faktor penunjang lainnya. Namun, seseorang tak perlu menjadi seorang kiai atau ulama terlebih dahulu untuk boleh berdakwah. Bahkan kewajiban menyampaikan itu tidak gugur hanya dikarenakan seseorang merasa belum memiliki ilmu yang cukup. Hal ini ditegaskan oleh sabda Nabi saw, “Ballighu ‘anniy walau ayah”, sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat. Dalam hadits yang lain disebutkan, “Berapa banyak orang yang diberitahu lebih paham daripada yang memberitahu”. Ini adalah bentuk penegasan bahwa setiap muslim memikul kewajiban untuk menyampaikan ilmunya kepada orang lain. Bahkan secara lebih tegas Allah swt menyatakan laknat-Nya kepada orang-orang yang telah sampai kepada mereka kebenaran namun justru mereka menyembunyikannya sebagaiman dilakukan oleh Ahli Kitab.
Berdakwah tidaklah harus di atas mimbar ataupun di masjid-masjid atau pada waktu-waktu tertentu saja. Karena setiap tempat dan waktu merupakan ladang untuk berdakwah. Bahkan tidak sedikit dakwah seseorang yang berhasil bukan lewat mimbar. Karena andaikan dakwah terbatas hanya di tempat-tempat atau waktu-waktu tertentu, niscaya sedikit sekali kesempatan itu. Bahkan dakwah yang paling efektif bukanlah dengan memberikan orasi yang mempesona di podium yang memikat hati setiap orang yang mendengarnya, meskipun hal itu juga diperlukan sebagai sarana penyampaian. Namun rahasia dakwah yang sukses justru terletak pada diri da’i itu sendiri. Karena manusia lebih cenderung mempercayai bahasa kepribadian daripada bahasa lisan. Seseorang bisa saja berjam-jam berorasi di hadapan banyak orang dengan gelora semangat yang membangkitkan emosi para pendengar, namun setelah ia turun dari mimbarnya justru apa yang baru saja disampaikannya ditolak mentah-mentah karena kepribadiannya bertolak belakang dengan apa yang diucapkannya. Lisanul hal ablaghu min lisanil maqal, demikian para ahli hikmah mengatakan.
Oleh karena kewajiban berdakwah tidak terbatas hanya untuk kalangan tertentu saja, maka setiap muslim dapat memanfaatkan potensi yang dimilikinya sebagai sarana untuk berdakwah. Sebagai contoh seorang dokter, ia dapat memberikan resep tambahan kepada para pasien sebelum meninggalkan tempat prakteknya menuju rumah masing-masing dengan resep-resep syar’i seperti menjaga shalat lima waktu tepat pada waktunya, puasa senin-kamis, shalat dhuha dan lain sebagainya serta memberikan pemahaman yang benar bahwa kesembuhan datangnya hanya dari Allah swt semata, adapun dokter, obat, atau apapun selain-Nya hanyalah sebagai sebab dan perantara, dan tawakal kepada-Nya itulah jalan satu-satunya yang akan mendatangkan ketenangan dalam hati. Dengan cara yang sedemikian halus tentu seorang pasien tidak akan merasa bahwa dirinya sedang mendapatkan ceramah keagamaan seperti yang banyak disampaikan di mimbar-mimbar oleh para da’i.
Faktor-faktor pendukung kesuksesan dakwah pun perlu mendapatkan perhatian serius bagi para calon dai. Karena hal itu menjadi kunci sukses tidaknya sebuah dakwah. Berikut ini beberapa resep yang dapat diambil manfaatnya sebagai bekal menuju dunia dakwah:
1. Perbaikan diri.
Sebelum mulai terjun berdakwah seseorang dituntut terlebih dahulu memperbaiki hubungannya dengan Rabbnya. Karena intisari dakwah yang akan disampaikannya adalah ditujukan untuk menuju Rabbnya. Bagaimana mungkin seseorang ingin mengajak orang lain menuju Rabbnya sementara hubungan dirinya sendiri dengan Rabbnya kurang harmonis. Hal ini tentu menjadi syarat utama bagi seorang dai sekaligus sebagai sarana pembentukan kepribadian. Jika kita tengok lebih jauh biografi para ulama generasi salaf, tentu kita akan mendapati bahwa mereka adalah pribadi-pribadi yang demikian intensif memperhatikan hubungan dirinya dengan Rabbnya. Mereka betul-betul menjaga hubungan itu agar jangan sampai rusak. Setiap kali syetan datang menggoda hati mereka, mereka segera teringat akan Zat yang telah menciptakannya, lalu beristighfar dan bertaubat memohon ampun atas kesalahan yang baru saja dilakukannya. Bahkan tak sedikit di antara mereka yang terus-menerus menangisi kesalahan yang telah lama ia perbuat. Serta memohon ampun setiap saat karena khawatir kesalahan itu akan membuat Kekasihnya murka. Padahal jika kita teliti lebih jauh di antara kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan itu merupakan hal yang dianggap lumrah dan remeh oleh orang-orang biasa, terutama pada zaman sekarang, sebagaimana ahli hikmah mengatakan, hasanatul abrar sayyiatul muqarrabin. Oleh karena itu, tak mengherankan jika mereka menjadi pribadi-pribadi yang bukan saja mulia di mata Allah swt, namun di mata manusia mereka adalah permata-permata mahal yang selalu terjaga. Manusia banyak berdatangan kepada mereka untuk mengambil ilmu darinya atau sekedar untuk mendapatkan berkah kesalehannya. Nama mereka pun selalu harum tercatat dalam sejarah dan terabadikan hingga akhir zaman.
2. Memberi contoh.
Sebelum mengajak orang lain tentu seseorang dituntut terlebih dahulu memahami hakekat apa yang akan disampaikannya, kemudian mengaplikasikannya pada dirinya sendiri. Sehingga ketika amalan itu telah mendarahdaging dan menjadi kebiasaannya ia akan menemukan kenikmatan dari amalan itu, sehingga ketika suatu saat amalan itu terlewatkan ia akan merasa kehilangan dan berusaha mencari penggantinya. Dari situ, ia pun akan lebih mudah menyampaikannya kepada orang lain. Manusia pun takkan merasa kesulitan ketika ingin mencocokkan antara ucapan dengan amalannya sehari-hari, karena pada keduanya tak terdapat perbedaan yang jauh. Diriwayatkan bahwa salah seorang di antara ulama salaf tiba-tiba berhenti pada suatu permasalahan fiqh dan menunda menjelaskannya hingga beberapa waktu lamanya, kemudian ia kembali lagi ke majelis ta’lim untuk menjelaskan permasalahan tersebut, ketika ditanya mengapa ia melakukan hal yang demikian ia mengatakan, “Aku takkan menerangkan masalah ini sebelum aku mempraktekkannya”, permasalahan itu adalah masalah membebaskan budak. Ini merupakan strategi dakwah yang paling ampuh, bahkan lebih ampuh daripada sekedar kemampuan berceramah yang baik namun tidak diiringi dengan contoh nyata sehingga ucapannya kontras dengan perbuatannya. Bahkan yang terakhir ini merupakan perbuatan yang dapat mendatangkan murka Allah swt. Konsep ini merupakan konsep Rasulullah saw yang ditanamkan kepada para sahabatnya. Beliau bersabda, “Ibda’ binafsika”. Ya, mulailah dari dirimu sendiri, jangan menunggu orang lain. Terlebih bagi seorang dai yang setiap gerak-gerik dan tingkah lakunya diperhatikan dan menjadi panutan bagi umatnya, tentu akan sangat fatal akibatnya jika umatnya mendapatinya dalam kondisi yang tidak sesuai dengan apa yang selama ini disampaikannya.
3. Mengajak bukan memvonis.
Sebagaimana istilah dakwah itu sendiri diambil, dari kata da’a-yad’u-du’a wa da’wah, yang berarti mengajak atau ajakan, maka bagaimana seorang dai menjadikan bahasa dakwahnya menjadi bahasa ajakan yang bersifat persuasif dan jauh dari kesan menggurui sangat perlu diperhatikan. Memang ada saatnya seseorang harus menggunakan bahasa guru terhadap murid seperti ketika seseorang mengajari anaknya. Namun untuk kondisi masyarakat secara umum bahasa ajakan lebih bisa diterima. Khususnya masyarakat
4. Sampaikan apa adanya.
Yang terakhir ini lebih merupakan amanat bagi seorang pengemban dakwah. Seorang dai harus menyampaikan dakwahnya secara terbuka dan apa adanya. Terbuka artinya tidak menutup-nutupi sebagian pesan dan menyampaikan sebagian lainnya. Sampaikanlah amanat Rasulullah saw itu dengan sempurna, tanpa mengurangi ataupun menambahinya sedikitpun. Sampaikanlah Islam apa adanya, karena Islam merupakan ajaran yang telah sempurna. Ia tak boleh dikurangi dan tak perlu ditambahi. Islam juga merupakan ajaran yang sesuai dengan fitrah manusia, maka tak perlu kita menutup-nutupinya. Sampaikanlah kepada manusia bahwa Islam adalah agama perdamaian, cinta kasih sayang dan persaudaraan. Islam adalah agama yang menjunjung tinggi keadilan dan kesejahteraan. Ia melarang segala macam bentuk kezaliman dan kesewenang-wenangan serta penindasan. Islam adalah agama yang indah dan sesuai hati nurani. Sampaikanlah bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk saling bersopan santun dan saling menghormati. Sampaikan pula bahwa Islam adalah agama kemuliaan, dan kemuliaan Islam itu diletakkan di sebuah puncak tertinggi yang bernama Jihad. Dengan tiang Jihad-lah agama ini sanggup tegak hingga akhir zaman. Dan akan senantiasa ada sekelompok dari umat ini yang memegang panji itu, serta menggenggamnya hingga akhir zaman. Sampaikanlah bahwa Islam ini bisa tegak hingga kini berkat keringat para ulama dan darah para syuhada dan sejarah Islam tercatat dengan dua tinta, tinta emas para ulama dan tinta darah para syuhada. Sampaikan pula bahwa Islam ini tak akan dapat kembali kepada kejayaannya sebelum umatnya kembali kepada agamanya, kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw. Sampaikanlah Islam secara kaffah dan jangan lupa untuk senantiasa berdoa kepada Allah swt, memohon taufik dari-Nya serta bersabar menghadapi badai cobaan dan rintangan yang akan selalu datang silih berganti sebagai sunnatullah. Harapkan selalu ridha Allah swt dan bersihkan hati dari keinginan-keinginan duniawi. Ingat, jalan dakwah bukanlah jalan mulus bertabur bunga di kanan kiri, berhias tepuk tangan dan sorak sorai penonton dan bermahkotakan decak kagum dan pujian. Namun, ia adalah sebuah pendakian terjal penuh onak, duri dan bebatuan tajam. Ia adalah jalan yang menjadikan Rasulullah saw berlumuran darah, kehilangan banyak sahabat dan kerabatnya. Jalan yang menjadikan para nabi dicerca, dihina, disiksa bahkan dibunuh oleh umatnya. Tentu kisah Nabi Nuh, Hud, Shalih, Ibrahim, Luth, Musa, Isa dan masih banyak lagi nabi-nabi lainnya dapat menjadi kisah penghibur hati bagi para peniti jalan mulia ini. Jalan yang memberikan garis pembeda antara orang-orang yang benar-benar beriman dengan yang tidak. Ia adalah jalan seorang mukmin sejati hingga hari kiamat. Wallahu a’lam bis showab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar