Kamis, 18 Maret 2010

GLOBALISASI

MAKALAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

DAMPAK GLOBALISASI

LOGO

KELOMPOK:

ASTIKA DAMAYANTI (05)

ENIK WIDYAWATI (17)

HATIK SETYANINSIH (19)

INDAH WAYUNINGSIH (21)

SUNDARI (33)

SMK MUHAMMADIYAH 4 SRAGEN

TAHUN 2010

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……………………………………………………….............. i

DAFTAR ISI……………………………………………………………….............. ii

PENGESAHAN......................................................................................................... iii

KATA PENGANTAR……………………………………………………………….iv

BAB I. PENDAHULUAN………………………………………………………….
I. A. LATAR BELAKANG ……………………………………………................... 1
I. B. TUJUAN PENULISAN…………………………………………...................... 1
I. C. MANFAAT PENULISAN………………………………………..................... 1

BAB II. ISI………………………………………………………………………….
II A. APA ITU GLOBALISASI………………………………………...................... 2
II B. DAMPAK GLOBALISASI TERHADAP PERCATURAN POLITIK DI INDONESIA…………………………………………………………...................... 2
II C. LANGKAH LANGKAH YANG PERLU DIAMBIL INDONESIA DALAM MENGHADAPI DAMPAK GLOBALISASI ……………………….....................................................................
4


BAB III. KESIMPULAN…………………………………………………..
PENUTUP.................................................................................................................. 5
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 5

LAMPIRAN............................................................................................................... 5













PENGESAHAN

Makalah ini telah selesai dibuat dengan baik dan telah disetujui oleh guru Pelajaran Kewarganegaraan.

Pada hari :

Tanggal :

Sragen,…………………………

Guru Mata Pelajaran

(Nunung Nurlia,S.Pd)

KATA PENGANTAR


Puji dan syukur alhamdulillah Penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberi kekuatan dan kemudahan dalam menyelesaikan makalah ini. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas pelajaran penidikan kewarganegaraan, namun demikian semoga makalah ini tidak hanya bermanfaat bagi penulis namun juga bisa bermanfaat dan menambah wawasan bagi semua pihak.

Penulis menyadari bahwa makalah ini banyak mengalami kekurangan, karena itu penulis berharap masukan dari pembaca agar makalah ini menjadi lebih sempurna. Dalam kesempatan ini penulis ingin menguncapkan terima kasih kepada Ibu Nunung selaku guru pelajaran kewarganegaraan SMK MUHAMMADIYAH 4 SRAGEN yang telah memberi kesempatan untuk belajar membuat makalah pembuatan makalah ini.

Penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh guru,staf dan teman - teman di SMK MUHAMMADIYAH 4 SRAGEN.yang cukup memberi kemudahan dalam belajar serta memberikan kehangatan dalam persaudaraan
Secara khusus.
Semoga Allah membalas kebaikan semuanya

amin……

Sragen,16 Mart 2010

Penulis

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Identitas sebuah bangsa atau komunitas tentu saja sangat penting. Berbagai kepentingan manusia sesungguhnya bertitik tolak dari hal ini. Akibatnya, mempertahankan dan menjaga identitas menjadi sebuah misi penting setiap bangsa atau komunitas. Mengapa negara-negara Uni Eropa menolak Turki untuk bergabung bersama mereka? Karena perbedaan identitas antara mereka dengan Turki. Eropa dengan sangat jelas menegaskan bahwa mereka tidak menghendakinya ada satupun negara muslim (baca: Turki) dalam persatuan Uni Eropa.[13] Dengan demikian, sebenarnya kekhawatiran akan terjadinya krisis identitas telah menjadi milik semua bangsa di dunia; suatu hal yang kemudian mendorong beberapa bangsa itu justru melakukan “agresi identitas” terhadap bangsa lain. Dan itu dilakukan dengan menunggangi globalisasi sebagai alat.

Pemanfaatan globalisasi tentu saja didasarkan pada pandangan objektif bahwa fenomena ini tidak sepenuhnya mengandung nilai-nilai negatif. Fenomena ini sebenarnya menyimpan sebuah kekuatan yang sangat dahsyat, yang dampak-dampaknya sepenuhnya bergantung pada “siapa dan bagaimana” ia dimanfaatkan. Senjata paling mematikan yang dimiliki oleh globalisasi adalah media informasi dan sarana telekomunikasi dengan segala variannya yang berkembang setiap hari.

Maka dari itu emahaman dari pengertian globalisasi yang sebenarnya sangatlah diperlukan bai semua kalangan.

B. Rumusan Masalah

1. Apa itu globalisasi?

2. Baaimana dampak dari Globalisasi tersebut?

3. Langkah-langkah yang perlu diambil dalam menghadapi globalisasi?

C. Tujuan Penulisan

1. Menetahui hakikat dan makna globalisasi

2. Mengetahui dampak globalisasi di ranah politik,ekonomi,social dan budaya.

3. Memenuhi tugas Pelajaran Kewarganegaraan.

BAB II

ISI DAN PEMBAHASAN

1. Apa itu globalisasi?

Definisi terhadap globalisasi, antara lain:

Pertama, adalah yang menitikberatkan fenomena globalisasi pada bidang ekonomi. DR. Sa’ad al-Bazi’i misalnya menyebutkan:Globalisasi adalah upaya untuk melakukan persaingan yang tidak berimbang –bahkan boleh jadi tidak terhormat- dari satu sisi, dan dari sisi lain ia adalah upaya untuk melemahkan apapun yang menghalangi jalannya; baik itu berupa nilai ataupun upaya ekonomi dan pemikiran.

Kedua, John Hick, atau teologi dunia (world theology) oleh W.C. Smith.DR. Muhammad ‘Abid al-Jabiry mengatakan: Globalisasi berarti menafikan yang lain dan menjalankan ‘proses pemberangusan’ pemikiran (lain)...Ia juga berarti dominasi dan pengharusan menerapkan satu model konsumsi dan perilaku yang sama.

Ketiga, DR. Shabri ‘Abdullah: Bahwa globalisasi adalah fenomena dimana segala hal yang berhubungan dengan ekonomi, pemikiran, sosial dan perilaku bercampur serta berkelindan menjadi satu, hingga kemudian (hasil percampuran itu –pent) diafiliasikan kepada seluruh dunia melampaui batas-batas politis negara-negara.

Dan masih banyak lagi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit.

2. Bagaimana dampak dari Globalisasi tersebut?

Dampak Positif:

a. Perubahan Tata Nilai dan Sikap

Adanya modernisasi dan globalisasi dalam budaya menyebabkan pergeseran nilai dan sikap masyarakat yang semua irasional menjadi rasional.

b. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi

Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat menjadi lebih mudah dalam beraktivitas dan mendorong untuk berpikir lebih maju.

c. Tingkat Kehidupan yang lebih Baik

Dibukanya industri yang memproduksi alat-alat komunikasi dan transportasi yang canggih merupakan salah satu usaha mengurangi penggangguran dan meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Dampak Negatif

Dampak negatif modernisasi dan globalisasi adalah sebagai berikut.

a. Pola Hidup Konsumtif

Perkembangan industri yang pesat membuat penyediaan barang kebutuhan masyarakat melimpah. Dengan begitu masyarakat mudah tertarik untuk mengonsumsi barang dengan banyak pilihan yang ada.

b. Sikap Individualistik

Masyarakat merasa dimudahkan dengan teknologi maju membuat mereka merasa tidak lagi membutuhkan orang lain dalam beraktivitasnya. Kadang mereka lupa bahwa mereka adalah makhluk sosial.

c. Gaya Hidup Kebarat-baratan

Tidak semua budaya Barat baik dan cocok diterapkan di Indonesia. Budaya negatif yang mulai menggeser budaya asli adalah anak tidak lagi hormat kepada orang tua, kehidupan bebas remaja, dan lain-lain.

d. Kesenjangan Sosial

Apabila dalam suatu komunitas masyarakat hanya ada beberapa individu yang dapat mengikuti arus modernisasi dan globalisasi maka akan memperdalam jurang pemisah antara individu dengan individu lain yang stagnan. Hal ini menimbulkan kesenjangan sosial.

3 Langkah-langkah yang perlu diambil dalam menghadapi globalisasi?

Langkah- langkah untuk mengantisipasi dampak negatif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme antara lain yaitu :

1. Menumbuhkan semangat nasionalisme yang tangguh, misal semangat mencintai produk dalam negeri.

2. Menanamkan dan mengamalkan nilai- nilai Pancasila dengan sebaik- baiknya.

3. Menanamkan dan melaksanakan ajaran agama dengan sebaik- baiknya.

4. Mewujudkan supremasi hukum, menerapkan dan menegakkan hukum dalam arti sebenar- benarnya dan seadil- adilnya.

5. Selektif terhadap pengaruh globalisasi di bidang politik, ideologi, ekonomi, sosial budaya bangsa.

Dengan adanya langkah- langkah antisipasi tersebut diharapkan mampu menangkis pengaruh globalisasi yang dapat mengubah nilai nasionalisme terhadap bangsa. Sehingga kita tidak akan kehilangan kepribadian bangsa.

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Ø Terdapat berbagai macam makna demokrasi,namun intinya yaitu Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia di seluruh Dunia.

Ø Globalisasi tidak dapat dihindari dan ditolak.

Ø Globalisasi mencakup semua aspek kehidupan

Ø Pendidikan yang memadai sangat dibutuhkan dalam menghadapi era globalisasi.

B. PENUTUP

Pemanfaatan globalisasi tentu saja didasarkan pada pandangan objektif bahwa fenomena ini tidak sepenuhnya mengandung nilai-nilai negatif. Fenomena ini sebenarnya menyimpan sebuah kekuatan yang sangat dahsyat, yang dampak-dampaknya sepenuhnya bergantung pada “siapa dan bagaimana” ia dimanfaatkan. Senjata paling mematikan yang dimiliki oleh globalisasi adalah media informasi dan sarana telekomunikasi dengan segala variannya yang berkembang setiap hari. Dan seperti yang telah disinggung sebelumnya, hari ini kita menantikan kolaborasi cantik antara ulama, pemikir, ilmuwan ahli, budayawan, dan pelaku-pelaku globalisasi muslim untuk meracik secara tepat, untuk kemudian menyajikan jawaban positif Islam atas globalisasi.

Demikian akhirnya makalah ini dapat diseesaikan,semoga bermanfaat bagi penulis dan semua embaca yang budiman kami sadar bahwa masih banyak kesalahan dalam penulisan ini,karena itu mohon saran dari semua peihak.

C. DAFTAR PUSTAKA

-http;//id.wikipedia.or/wiki/lobalisasi

- Abul Miqdad al-Madany.blospot.com

- http://m.cybermq.com


Minggu, 07 Februari 2010

ATAS NAMA TA'ARUF!!

Ini adalah kisah yang sudah sangat melegenda:
- Tentang Julius Caesar, kaisar Romawi yang rela kehilangan kehormatan, kesetiaan dan bahkan negaranya demi si Ratu Penggoda:Cleopatra. Semua dia lakukan (kata ahli sejarah)...atas nama cinta
- Ini kisah tentang pemuda bernama Romeo, demi seorang wanita, rela kehilangan keluarga, dan tentu saja nyawa... tetap saja: atas nama cinta -

Satu lagi, seorang janda bernama Khadijah, yang rela mengorbankan segalanya demi membela pemuda bernama Muhammad, yang dia yakini membawa risalah Tuhannya.

Ini juga :atas nama cinta kata Jalaluddin Rumi: cinta akan membuat yang pahit menjadi manis dan dengan cinta tembaga menjadi emas dengan cinta yang keruh menjadi jernih. Dengan cinta sakit menjadi obat, dengan cinta yang mati akan menjadi hidup, dan cintalah yang menjadikan seorang raja menjadi hamba sahaya dari pengetahuanlah cinta seperti tumbuh.

Afwan, aku bukan pujangga yang hendak membahas tentang cinta. Aku juga tidak sedang mencampuri urusan orang lain (Aku hanya ingin memposisikan diri sebagai seorang saudara.. yang wajib hukumnya untuk mengingatkan saudaranya yang mungkin...salah langkah.

Bila aku salah, atau artikel ini tak berkenan, mohon maaf. Itu saatnya aku untuk dikritisi. Aku ingin bicara atas nama wanita, terlebih akhwat (kalau boleh sih) tolong untuk para ikhwan (atau yang merasa sebagai muslim).

Wanita adalah makhluk yang sempit akal dan mudah terbawa emosi. Terlepas bahwa aku tidak suka pernyataan tersebut, tetapi itulah fakta. Sangat mudah membuat wanita bermimpi.

Tolong, berhentilah memberi angan-angan kepada kami. Mungkin kami akan melengos kalau disapa. Atau membuang muka kalau dipuji. Namun, jujur saja, ada perasaan bangga. Bukan suka pada antum (mungkin) namun suka karena diperhatikan "lebih".

Diantara kami, ada golongan Maryam yang pandai menjaga diri. Tetapi tidak semua kami mempunyai hati suci. Jangan antum tawarkan sebuah ikatan bernama ta'aruf bila antum benar-benar belum siap akan konsekuensinya. Sebuah ikatan ilegal yang bisa jadi berumur tak cuma dalam hitungan bulan tetapi menginjak usia tahun, tanpa kepastian kapan akan dilegalkan.

Tolong, pahami arti cinta seperti pemahaman Umar Al Faruq: seperti induk kuda yang melangkah hati-hati karena takut menginjak anaknya (afwan, bener ini ya riwayatnya?). Bukan mengajak kami ke bibir neraka. Dengan SMS-SMS mesra, telepon sayang, hadiah-hadiah ungkapan cinta dan kunjungan pemantapan yang dibungkus sebuah label: ta'aruf.

Tolong, kami hanya ingin menjaga diri . Menjaga amal kami tetap tertuju padaNYA.Karena janji Allah itu pasti. Wanita baik hanya diperuntukkan laki-laki baik.
Jangan ajak mata kami berzina dengan memandangmu! Jangan ajak telinga kami berzina dengan mendengar pujianmu! Jangan ajak tangan kami berzina dengan menerima hadiah kasih sayangmu! Jangan ajak kaki kami berzina dengan mendatangimu! Jangan ajak hati kami berzina dengan ber-dua-an denganmu! Ada beda persahabatan sebagai saudara, dengan hati yang sudah terjangkiti virus. Beda itu bernama "rasa" dan "pemaknaan"


Jangan ajak mata kami berzina dengan memandangmu! Jangan ajak telinga kami berzina dengan mendengar pujianmu! Jangan ajak tangan kami berzina dengan menerima hadiah kasih sayangmu! Jangan ajak kaki kami berzina dengan mendatangimu! Jangan ajak hati kami berzina dengan ber-dua-an denganmu


Bukan, bukan seperti itu yang dicontohkan Rasulullah! Antum memang bukan Mush'ab. Antum juga tak sekualitas Yusuf as. Tetapi antum bukan Arjuna dan tak perlu berlagak seperti Casanova karena Islam sudah punya jalan keluar yang indah. Segeralah menikah atau jauhi wanita dengan puasa!saudariku....sahabatku...u
khty muslimah....,,,,

sungguhpun taaruf bukanlah sebuah permainan....bukan sekedar coba-coba...bukan sekedar perkiraan...
"hmm..siapa tau cocok..."
"hmm...siapa tau jodoh..."
"siapa tau..."siapa tau...'
atau bahkan..." Hmm....lumayanlah...buat hepi-hepian...???????"
astaghfirullah....

sungguh...Taaruf itu bukanlah sebuah keisengan seperti itu....!!!!

bagaimana mungkin SATU-SATUNYA JALAN YANG DIHALALKAN OLEH ALLAH...OLEH ISLAM..adalah sebuah permainan iseng...permainan coba-coba...sebuah kesenangan terselubung...??????

bagaimana mungkin SATU-SATUNYA JALAN YANG DIHALALKAN OLEH ALLAH...OLEH ISLAM..adalah sebuah permainan iseng...permainan coba-coba...sebuah kesenangan terselubung...??????

bagaimana mungkin suatu upaya untuk menghindari PACARAN...justru tanpa disadari masuk dalam PACARAN tersebut...
bagaiaman mungkin sebuah upaya untuk membuahkan suatu yang suci...suatu ikatan yang mahal harganya...sebuah perjanjian agung yakni PERNIKAHAN adalah sebuah lelucon yang bisa dilakukan dengan siapa saja...siapa saja yang mau...siapa saja yang ada...atau sebuah iseng-iseng berhadiah...???????????????


dengan perkataan...
"coba ah...sama dia...siapa tau...hehehe..???????!!!!!!!?????????"

TAARUF BUKAN HAL-HAL REMEH TEMEH SEPERTI ITU....!!!!!!!
TAARUF ITU SUNGGUH SUCI...!!!

sungguh bukan hak saya untuk berkata demikian sebenarnya...
saya bukan siapa-siapa...bahkan saya adalah orang yang sangat sangat awam dengan masalah ini....

tapi...sungguh miris hati saya ketika melihat realita...taaruf seakan jadi sebuah solusi atau jalan lain karena tidak boleh pacaran...!!!
akhibatnya...??? taaruf tiada bedanya dengan pacaran...???
lalu...??? taaruf adalah pacaran hanya dibungkus dengan "selimut Islami..."????????
jika pacaran yang dibicarakan adalah...(hmm..mungkin ..^^)
"sayang...ketemuan yuk..."

jika taaruf...
"ukhty...sholat tahajud dulu...??????????"

jika pacaran mengungkapkan perasaan dengan
"sayang...aku cinta kamu..."

taaruf ...??
"ukhty...sungguh hati ini mencintaimu karena Allah...????"

sms-sms penuh perhatian...tiap hari...tiap jam...
telepon-telepon mengobrol kehidupan sehari-hari...
chatting..???
YANG DIBICARAKAN...??????? hmm..tidak jauh beda...!!!



kiranya semuanya telah tau...
bahwa wanita adalah fitnah terbesar bagi seorang laki-laki...

namun...saya wanita...dan ukhty pun wanita...

tapi kita juga tau...bahwa perhatian laki-laki...kasih sayangnya...sikap melindunginya...kesetiaannya adalah cobaan yang tidak kalah hebatnya bagi seorang wanita...

tapi kita juga tau...bahwa perhatian laki-laki...kasih sayangnya...sikap melindunginya...kesetiaannya adalah cobaan yang tidak kalah hebatnya bagi seorang wanita

mungkin kami para akhwat pada awalnya akan berkata...
"iih...iseng bgt sih..."
"nyebelin..."
"ganjen..."
"TP TP..."
"ngapain sih ngajak-ngajak taarufan nggak jelas.."

TAPI....kita semua juga tau....



cinta itu tumbuh karena terbiasa...
terbiasa dekat...
terbiasa ada...
terbiasa bersama...
terbiasa berantem..hhe..^^
terbiasa saling menyapa...
terbiasa diberi perhatian...
terbiasa saling mengobrol...hmm...


cinta itu teramat bening...
saat ini tiada apapun...namun perlahan...tanpa kita sadari...dia sudah menjalar ke seluruh bagian jiwa kita,,,menguasai kita...

awalnya mungkin kita akan merasa sebal dengan kehadirannya...
terganggu oleh sms-sms isengnya....
terganggu oleh pertanyaan-pertanyaan anehnya....

namun...tanpa kita sadari...
saat ia tiada...
saat sms tak kunjung tiba...
saat telepon tak berdering lama....????
akan ada perasaan kehilangan....
setiap saat melihat ke HP...menunggu deringnya...
setiap saat melongok ke komputer...menunggu onlinenya.....

dan itukah...??? itukah saudariku....??? yang dinamakan dengan..."MENCINTAI KARENA ALLAH...???"
itukah...????
itukah....?????????

ya akhi...para ikhwan....
sungguh hati wanita ini lemah....
hati wanita itu mudah terjangkiti virus....

dan bagaimana jika kita telah jatuh cinta...
bagaimana ternyata hati kita sudah saling merindu...menginnginkan adanya kebersamaan...
merindukan adanya kasih yang tanpa akhir...
sementara....KITA BELUM HALAL....!!!!!! DAN MUNGKIN KITA TIDAK AKAN PERNAH JADI HALAL....!!!!!!

sanggupkah engkau pertanggungjawabkan sms-sms mesramu...???
sangggupkah engkau pertanggungjawabkan telepon mesramu...???
sanggupkah engkau pertanggungjawabkan tangis kami karena mulai merindukanmu...??? mulai berharap padamu...???

Tolong, kami hanya ingin menjaga diri . Menjaga amal kami tetap tertuju padaNYA.Karena janji Allah itu pasti. Wanita baik hanya diperuntukkan laki-laki baik.
Jangan ajak mata kami berzina dengan memandangmu! Jangan ajak telinga kami berzina dengan mendengar pujianmu! Jangan ajak tangan kami berzina dengan menerima hadiah kasih sayangmu! Jangan ajak kaki kami berzina dengan mendatangimu! Jangan ajak hati kami berzina dengan ber-dua-an denganmu!


ya akhi....ikhwan...calon pemimpin kami di masa depan....
jika engkau benar-benar serius...mengapa engkau hanya bersembunyi dibalik internetmu...???
bersembunyi dibalik HPmu...???
bersembunyi dalam kata-katamu...????????

kita sudah lelah dengan semua itu...
sungguhpun kita tidak mengharapkan seorang laki-laki BERMENTAL TEMPE...
yang hanya berani di dunia maya...
yang hanya berani di dunia sms...

dan yang lari dari tanggungjawab setelah merasa tidak cocok....

jika engkau memang sungguh serius...
DATANGLAH PADA ORANGTUA KAMI...!!!
JAWAB PERTANYAAN KAMI DENGAN LANTANG...!! DIHADAPAN KAMI...!!!!
JAWAB PERTANYAAN KAMI SECARA LANGSUNG....!!!!

kami wanita ingin pemimpin yang berani....
kami wanita yang ingin menjaga diri...
kami wanita yang tidak ingin diberi harapan palsu...janji gombal....
kami wanita yang ingin laki-laki yang halal.....
DENGARLAH AKHI...KAMI WANITA YANG BERBEDA...!!!!!!

PERNIKAHAN ADALAH KESUCIAN....
DAN JALAN MENUJU PERNIKAHAN TENTUNYA HARUS SESUCI PERNIKAHAN ITU PULA...!!!

kata-kata di bawah ini copas dari...http://fsialbiruni.multiply.com/journal/item/6
dari milis group "saudaraku, perasaanku bukan kelinci percobaan"

kata-kata di bawah ini copas dari...http://fsialbiruni.multiply.com/journal/item/6
dari milis group "saudaraku, perasaanku bukan kelinci percobaan"

Aku bukanlah seorang gadis yang cerewet dalam memilih pasangan hidup. Siapalah diriku untuk memilih permata sedangkan aku hanyalah sebutir pasir yang wujud di mana-mana.
Tetapi aku juga punya keinginan seperti wanita solehah yang lain, dilamar lelaki yang bakal dinobatkan sebagai ahli syurga, memimpinku ke arah tujuan yang satu.

Tidak perlu kau memiliki wajah setampan Nabi Yusuf Alaihisalam, juga harta seluas perbendaharaan Nabi Sulaiman Alaihisalam, atau kekuasaan seluas kerajaan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, yang mampu mendebarkan hati juataan gadis untuk membuat aku terpikat.
Andainya kaulah jodohku yang tertulis di Lauh Mahfuz, Allah pasti akan menanamkan rasa kasih dalam hatiku juga hatimu. Itu janji Allah. Akan tetapi, selagi kita tidak diikat dengan ikatan yang sah, selagi itu jangan dimubazirkan perasaan itu karena kita masih tidak mempunyai hak untuk begitu. Juga jangan melampaui batas yang telah Allah tetapkan. Aku takut perbuatan-perbuatan seperti itu akan memberi kesan yang tidak baik dalam kehidupan kita kelak.
Permintaanku tidak banyak. Cukuplah engkau menyerahkan seluruh dirimu pada mencari ridha Illahi. Aku akan merasa amat bernilai andai dapat menjadi tiang penyangga ataupun sandaran perjuanganmu. Bahkan aku amat bersyukur pada Illahi kiranya akulah yang ditakdirkan meniup semangat juangmu, mengulurkan tanganku untukmu berpaut sewaktu rebah atau tersungkur di medan yang dijanjikan Allah dengan kemenangan atau syahid itu. Akan kukeringkan darah dari lukamu dengan tanganku sendiri. Itu impianku.
Aku pasti berendam airmata darah, andainya engkau menyerahkan seluruh cintamu kepadaku. Cukuplah kau mencintai Allah dengan sepenuh hatimu karena dengan mencintai Allah, kau akan mencintaiku karena-Nya. Cinta itu lebih abadi daripada cinta biasa. Moga cinta itu juga yang akan mempertemukan kita kembali di syurga….


ATAS NAMA TAARUF...???

MUNGKIN SALAH SEORANG LAKI-LAKI AKAN BERTANYA..." mengapa wanita begitu selektif memilih orang yang akan taaruf.."
maka...
wanita akan menjawab..suami kami nanti kelak akan menjadi pemimpin kami...
akan kami layani kebutuhannya....
akan kami tunggu kehadirannya...
akan kami berikan jiwa kami...raga kami....
bagaimana mungkin kami lalai dalam memilih calon suami...meski hanya dalam rangka taaruf...??
suami kami nanti akan menjadi pembimbing agama kami...penjaga kami...pelindung kami...
bagaimana mungkin kami akan gegabah dalam menentukan pilihan...meski hanya sebatas tukaran biodata..??
mentaati suami kami adalah salah satu jalan kami ke surga...
ketaatan pada suami adalah lambang kesholihan kami....
bagaimana mungkin kami akan cepat memutuskan siapa pilihan kami meski hanya sebatas kata..."baik saya setuju...taarufan..."

ya akhi....saudaraku...para ikhwan....
JANGAN TAWARKAN KEISENGAN ATAS NAMA TAARUF PADA KAMI...!!!!!
KETAHUILAH...KAMI ADALAH WANITA YANG BERBEDA...!!!!!

By:ustdz. Zaidah

Jumat, 20 November 2009

PELANGI IBU

Awalnya sederhana sekali. Ketika itu aku memberi Ibu hadiah seekor ayam kedu. Ayam betina yang cantik, berbulu kombinasi abu-abu, putih, dan coklat muda. Ayam yang kubeli seharga dua puluh ribu perak dan kuberi nama Pelangi.Respon Ibu pun tadinya biasa saja. Tak se-surprised ketika Mbak Irna, kakakku yang sulung, menghadiahi seuntai kalung mutiara. Selain harganya hampir terpaut seratus kali lipat, aku pun sangat tahu Ibu tidak suka memelihara ayam. Ibu lebih suka dengan koleksi tanaman hiasnya. Cuma entah mengapa, begitu melihat sosok Pelangi di Pasar Bandungan, ketika aku iseng-iseng survei di sana, tiba-tiba ‘jatuh cinta’ seketika dan berhasrat menghadiahkannya kepada Ibu. Tak peduli nantinya akan disembelih atau diserahkan ke Mat Karpo, tukang kebun kami, yang jelas aku memberikan hadiah itu dengan penuh cinta.Itu satu setengah tahun silam, ketika aku masuk mahasiswa semester dua. Setelah aktif di kampus dengan seabreg kegiatan, baik Rohis maupun di BEM, secara otomatis urusan si Pelangi pun terlupakan. Sampai keluhan itu berdatangan.“Ibu lebih mengutamakan si Pelangi daripada Andang dan Evan, cucu-cucunya,” keluh Mbak Erna lewat telepon. “Masa ketika mudik kemarin kami dicuekin…”“Gila, kau beri guna-guna apa si Ibu, Fa? Mosok Ibu lebih seneng kangen sama ayam-ayam daripada aku dan anak-anak. Baru dua hari di Jakarta, ibu kemut-kemut pengen pulang. Katanya keluarga Pelangi tidak ada yang ngurusin. Kan, ada Mat Karpo dan Bi Iyem,” ujar Mas Wahyu, juga via telepon.Bukan cuma mereka berdua. Mas Hendy yang sudah dua tahun merantau di Medan juga mencak-mencak. “Sialan! Jauh-jauh datang dari Medan, dikalahkan oleh ayam!” tulisnya via e-mail.Tadinya aku cuma tersenyum geli. Kupikir ketiga kakakku yang sudah jadi orang itu cuma main-main. Masak sih ada Ibu yang lebih cinta pada ayam daripada anaknya sendiri?Kalaupun Ibu memang sayang sama Pelangi, diam-diam aku bersyukur. Hadiahku yang cuma seharga 20 ribu itu berhasil mengalahkan hadiah-hadiah borju kakak-kakakku. Mengalahkan kalung mutiara Mbak Irna, dokter spesialis kandungan yang sudah punya RS bersalin sendiri di Surabaya. Mengalahkan cincin berlian hadiah Mas Wahyu, si ahli komputer yang tinggal di Jakarta, ataupun gelang cantik dari Mas Hendy, insinyur minyak yang lebih enjoy di Medan daripada di tanah kelahirannya sendiri.Bayangkan, seekor ayam dari mahasiswa semester lima seperti aku, yang cuma ngasih hadiah seharga lima mengkuk bakso, berhasil mengalahkan hadiah-hadiah yang sangat tak terjangkau oleh kantongku. Ajaib, bukan?Tapi aku kena batunya. Keluhan-keluhan itu ternyata bukan just kidding. Aku alami sendiri saat mudik agak lama sebulan yang lalu. Seminggu di rumah, aku dibuat cemburu oleh ulah di gold child, Pelangi.Ba’da Shubuh, Ibu asyik memberi makan si Pelangi yang telah beranak-pinak. Ketika aku mendekat, tiba-tiba beliau menjadi juru bicara yang mahir. Ajaib, karena selama ini beliau terkenal sangat pendiam.“Pelangi sudah punya empat puluh anak. Lucu-lucu, bukan? Si Burik, anaknya yang mbarep sudah mulai bertelur. Nah itu Sawunggaling, seangkatan Burik, sudah jadi jago yang gagah. Kemarin jago Mat Karpo dipatuk sampai mati. Dan itu Arjuna, idola ayam betina, si hidung belang. Cakep kayak ibunya,” Ibu terkekeh.Aku cuma tersenyum kecut. Semakin kecut ketika setelah mengumbar kehebatan Pelangi Family, beliau seperti tidak menyadari keberadaanku. Sibuk berat! Beliau berhenti cuma untuk shalat, mandi, dan tidur. Makan pun harus diingatkan oleh Bi Iyem, melalui proses yang rumit.“Ya, harus sabar, Den,” keluh Bi Iyem, “kalau tidak, Ibu benar-benar marah dan nggak mau makan.”“Ibu pernah mengusir tamunya karena merasa terganggu keasyikannya memberi makan ayam-ayam itu, Den,” lapor Mat Karpo. Gawat!!Pernah pukul 02.00 telepon di kosku berdering. Interlokal dari Purwokerto. Dengan jantung bedebar, aku mengangkatnya. Siapa sih yang sanggup tenang menerima telepon jarak jauh malam-malam seperti itu?“Afifah, khutuk si Burik mati semua kena penyakit… aduh, piye Fah? Kamu kan anak Biologi. Pokoknya besok pagi-pagi kamu harus pulang. Pakai kereta biar cepat!”“Aduh Bu, besok Afifah ada mid…”“Ibu nggak mau tahu. Pokoknya kowe kudu balik. Mengobati ayam lainnya. Kalau ketularan kan bisa mati semua.”“Tapi, Bu…”“Tidak ada tapi-tapian, atau jatah uangmu bulan ini Ibu hentikan!”Aku cuma tertunduk lemas. Minggu-minggu sibuk, penuh dengan kuis, midtest. Dan seabreg tugas Rohis, harus terkalahkan gara-gara ayam.****“Itu semua kesalahan kamu dan kakak-kakakmu, Fah…”Aku terhenyak. Analisis Astri, akhwat Psikologi itu jarang meleset. Tapi, what’s wrong?“Maksudmu, As?”“Ibumu butuh teman. Beliau kesepian. Pelangi hanya pelarian. Ibu butuh untuk melampiaskan rasa kangennya pada keempat anaknya yang kini jauh. Mbak Irna di Surabaya, Mas Wahyu di Jakarta, Mas Hendy di Medan, dan kamu di Semarang. Ibumu kesepian. Kenyataan bahwa Pelangi adalah dari putri bungsunya, sehingga seakan-akan Ibu mendapat pengganti.”“Jadi di mata Ibu, aku adalah Pelangi?” Aku tersenyum.“Bisa jadi,” Astri menjawab serius. Senyumku surut.“Ibu menyayangi semua anaknya. Rata, nggak pilih kasih. Mengapa Ibu tidak tergila-gila pada hadiah kakak-kakakku?”“Karena hadiah itu hanya benda mati, sedangkan Pelangi adalah mekhluk hidup. Beliau menemukan kasih sayang, keasyikan yang tidak didapatkan dari keempat anaknya yang selalu sibuk dengan urusan masing-masing.”Sekali lagi aku terhenyak. Sibuk dengan urusan masing-masing? Betul sekali. Aku sendiri yang masih berstatus mahasiswa, masih lajang saja jarang pulang. Bahkan libur panjang pun tidak. Padahal jarak Semarang-Purwokerto cuma 6 jam via bus. Kesibukan yang bertumpuk-tumpuk memang sangat menyita waktuku. Tugas dakwah ataupun akademis menuntutku untuk proaktif. Yah, tuntutan agar bisa tampil prima datang dari berbagai sektor, membuat jam terbangku menjadi sangat tinggi. Sekedar menelepon Ibu pun kadang tak sempat.Bercermin dari kesibukanku, aku bisa membayangkan kesibukan ketiga kakakku. Kami semua setipe, gila kerja. Yang berprinsip bukan sekedar time is money, tapi time is life. Itukah penyebabnya mengapa Ibu merasa terabaikan dan menjadikan Pelangi sebagai pelarian?“Kayaknya ini masalah serius buatmu, Fah. Kamu harus menyusun strategi! Jika tidak ingin…”“Tidak ingin apa?” kejarku.“Tidak ingin warisan Ibu jatuh ke Pelangi…”Lucu ucapan Astri. Tetapi aku tidak bisa tertawa. Ini serius, sangat serius. Kalau benar ucapan Astri, aku harus meninjau kembali predikat da’iyah yang melekat pada diriku. Untuk apa aku mati-matian menjadi khadimah jika Ibu sendiri, orang tua semata wayang setelah Bapak meninggal lima tahun silam, terabaikan?****Kulirik jam tanganku. Pukul 5 kurang. Setengah berlari kumasuki luas halaman depan rumah. Halaman yang penuh dengan tanaman hias. Tapi ada yang aneh. Yah, aku baru menyadari sekarang. Halaman memang bersih, rapi. Tapi nilai artistiknya sudah terabaikan dan seratus persen menjadi tanggung jawab Mat Karpo.Aku menghela nafas panjang, sambil kembali melangkah. Kuturuti saran Astri. Kusempatkan pulang di tengah kesibukanku. Besok pagi-pagi benar aku harus kembali ke Semarang ada rapat penting yang harus aku hadiri. Persiapan stadium general, pembukaan mentoring mahasiswa baru.Sebelumnya aku telah menghubungi ketiga kakakku. Surprise untuk Ibu. Bayangkan! Tanpa mengabari sebelumnya, tiba-tiba keempat anaknya datang serempak. Ibu mana yang tidak gembira? Setelah kuungkapkan hasil analisis Astri, ketiga kakakku setuju. Siiip!“Assalamu ‘alaikum…!” salamku.“Wa’alaikumussalam…!” jawab Bi Iyem yang dengan terkejut senang memelukku.“Den Afifah… senang sekali Den datang. Libur lama, ya!”“Nggak Bi, besok Fifah pulang. Mas Hendy sudah datang?”“Lho, Den Hendy juga mau datang, tho? Kok nggak cerita-cerita sih?”“Jadi belum pulang, ya. mbak Irna dan Mas Wahyu?”“Lho, mau pulang juga?”Kesimpulannya, belum ada yang datang. Ah, mungkin nanti malam. Masa mereka ingkar janji?“Bi, tahu kan Ibu suka pepes ikan mas dan puding nangka?”“Ya, Den.”“Pokoknya surprise…,” aku tersenyum misterius.“Tadi barusan Den Hendy telepon dari Medan.”“Oh, ya?”“Katanya ada proyek penting yang nggak bisa ditinggalkan. Neliau nitip pesan untuk Den Afifah…”Senyumku surut. Alamat rencana bisa berantakan. Tapi masih ada Mbak Irna dan Mas Wahyu sekeluarga. Tak apalah berkurang Mas Hendy seorang.“Udah deh, sekarang mulai masak saja . fifah capek banget nih!”Cepat aku berlari ke dalam. Kandang ayam! Tepat, Ibu ada di sana. Bercakap-cakap, memberi makan dan membelai….Rasanya aku harus berjuang keras untuk merebut kasih sayang beliau kembali. Tak lucu rasanya kalau harus bersaing dengan ayam.“O, kowe tho Nduk…,” cuma itu komentarnya. Sejurus kemudian beliau kembali ayik dengan Pelangi Family. Lupa bahwa aku ada di sisinya.****Pukul 8 tepat. Masakan sudah siap. Aku berdandan rapi dengan jubah biru dan kerudung putih lebarku. Plus kaos kaki, takut kalau tiba-tiba Mbak Irna datang bersama Mas Danu suaminya.Kriiinnnggg…!! Telepon berdering.“Hallo, assalamu’alaikum….”“Wa’alaikumussalam…. Ini Afifah ya? afwan, jaringan komputer di kantor Mas Wahyu kena virus semua. Mas harus kerja lembur. Jadi….”“Nggak bisa pulang? Mas ini gimana sih? Ini kan penting sekali. Apa Mas nggak….”“Ya, ya… mas tahu. Tapi Fah, ini juga penting. Bisa kamu bayangkan kerja kantor kalau semua komputer rusak. Mas harus….”“Oke, kalau semua itu lebih penting daripada Ibu! Assalamu ‘alaikum!!” kuletakkan gagang telepon dengan kasar. Apa rencana yang kupersiapkan harus gagal?Kriiinnnggg!!Lagi-lagi telepon berdering. Pasti Mas Wahyu lagi. Dengan segan aku mengangkatnya.“Halo, assalamu’alaikum!”“Wa ‘alaikumussalam. De Afifah, ya? ini Mbak Irna.”“Mbak Irna?” tiba-tiba sekujur tubuhku terasa lemas. “Nggak… nggak bisa datang, ya Mbak??”“Maaf banget, De. Ada yang sangat gawat. Mbak harus pimpin operasi malam ini juga…”Benar! Berantakan! Aku jatuh terduduk di meja makan. Menatap pepes ikan yang tampak sangat sedap itu. Dari mushala kulihat Ibu masuk ke kamar. Lalu kamar itu gelap. Mungkin beliau tidur.****Interlokal dari Purwokerto, pukul satu malam. Ukhti Nila yang membangunkan aku. Ia lembur menggarap rencana strategis untuk perkembangan Rohis di fakultasnya. Cepat kuraih gagang telepon. Ada apa? Si Pelangi lagi?“Den… gawat!”Bi Iyem. Dadaku berdebar kencang.“Ada apa, Bi?”“Konsleting, Den! Kandang ayam kebakaran, semua ayam mati!”Bagi orang lain hal itu pasti biasa. Tak harus interlokal malam-malam seperti ini. Tapi untuk Ibu….“Lalu, Bi….”“Ibu shock berat, beliau dibawa ke rumah sakit. Jantungnya kumat.”“Inna lillahi wa inna illaihi raaji’uun…” tubuhku gemetaran, “gawat nggak, Bi?”“Dibawa ke UGD, Den….”“Sudah telepon Mbak Irna?”“Sudah, tetapi….”“Mas Wahyu, Mas Hendy…?” kejarku emosi.“Sudah, tapi mereka juga belum bisa pulang….”Kutatap kalender di dinding kamar. Agenda buat besok: pukul 05.30 rapat koordinasi bidang An-Nida Rohis, pukul 07.30 sampai 12.30 kuliah. Ada mid semester Oceanologi dan Poultry Scince. Pukul 13.00 mentoring untuk adik kelas. Pukul 16.00 rapat BEM fakultas, persiapan Ekspo. Pukul 18.30 ngisi kajian untuk ibu-ibu di mushalla, pukul 20.00 mabit untuk membahas pengkaderan Rohis. Full!!Tapi Ibu sakit karena Pelangi sekeluarga mati.Bagi Ibu, Pelangi adalah Den Afifah. Burik adalah Den Irna. Sawunggaling adalah Den Hendy, dan Arjuna adalah Den Wahyu....Itu kata-kata Bi Iyem, sebulan yang lalu. Sekarang Pelangi, Burik, Sawunggaling, Arjuna dan keturunannya sudah mati. Jangan-jangan IBu juga menganggap Afifah, Irna, Wahyu, dan Hendy telah mati. Gawat!!Cepat kuambil pakaian seadanya, kumasukkan ke tas coca-cola-ku serabutan. Kupakai jubah hijau dan kerudung.“Mau kemana, Fah?”“Pulang, Ibu sakit keras. Pelangi mati….”Tak perlu kujelaskan pada ukhti Nila. Semua tanggung jawabku. Aku harus pulang, malam ini juga, untuk menunjukkan bahwa Afifah belum mati, bahwa Pelangi hanya seekor ayam!

Kamis, 15 Oktober 2009

Tips Dakwah

Berdakwah merupakan kewajiban setiap muslim. Setiap orang yang telah mengikrarkan dua kalimat syahadah memikul tugas untuk menyampaikan kebenaran yang telah diyakininya kepada orang lain. Karena hakekat dakwah adalah menunjukkan jalan menuju kebenaran. Ibarat seorang musafir tentu ia membutuhkan petunjuk dalam perjalannya agar sampai di tujuan tanpa tersesat. Maka para rasul pun diutus ke bumi untuk menunjukkan umatnya jalan menuju kebenaran. Dan kewajiban ini terus menerus dibebankan kepada umatnya setelah wafatnya.

Dakwah bukanlah sebuah profesi yang hanya dilakukan sebagian orang saja sebagaimana dipahami banyak orang. Namun ia merupakan manifestasi keimanan setiap orang yang mengaku muslim. Memang untuk dapat menyampaikan dakwah kepada umat secara baik dan benar seseorang dituntut untuk memiliki kapasitas keilmuan yang memadai di samping faktor-faktor penunjang lainnya. Namun, seseorang tak perlu menjadi seorang kiai atau ulama terlebih dahulu untuk boleh berdakwah. Bahkan kewajiban menyampaikan itu tidak gugur hanya dikarenakan seseorang merasa belum memiliki ilmu yang cukup. Hal ini ditegaskan oleh sabda Nabi saw, “Ballighu ‘anniy walau ayah”, sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat. Dalam hadits yang lain disebutkan, “Berapa banyak orang yang diberitahu lebih paham daripada yang memberitahu”. Ini adalah bentuk penegasan bahwa setiap muslim memikul kewajiban untuk menyampaikan ilmunya kepada orang lain. Bahkan secara lebih tegas Allah swt menyatakan laknat-Nya kepada orang-orang yang telah sampai kepada mereka kebenaran namun justru mereka menyembunyikannya sebagaiman dilakukan oleh Ahli Kitab.

Berdakwah tidaklah harus di atas mimbar ataupun di masjid-masjid atau pada waktu-waktu tertentu saja. Karena setiap tempat dan waktu merupakan ladang untuk berdakwah. Bahkan tidak sedikit dakwah seseorang yang berhasil bukan lewat mimbar. Karena andaikan dakwah terbatas hanya di tempat-tempat atau waktu-waktu tertentu, niscaya sedikit sekali kesempatan itu. Bahkan dakwah yang paling efektif bukanlah dengan memberikan orasi yang mempesona di podium yang memikat hati setiap orang yang mendengarnya, meskipun hal itu juga diperlukan sebagai sarana penyampaian. Namun rahasia dakwah yang sukses justru terletak pada diri da’i itu sendiri. Karena manusia lebih cenderung mempercayai bahasa kepribadian daripada bahasa lisan. Seseorang bisa saja berjam-jam berorasi di hadapan banyak orang dengan gelora semangat yang membangkitkan emosi para pendengar, namun setelah ia turun dari mimbarnya justru apa yang baru saja disampaikannya ditolak mentah-mentah karena kepribadiannya bertolak belakang dengan apa yang diucapkannya. Lisanul hal ablaghu min lisanil maqal, demikian para ahli hikmah mengatakan.

Oleh karena kewajiban berdakwah tidak terbatas hanya untuk kalangan tertentu saja, maka setiap muslim dapat memanfaatkan potensi yang dimilikinya sebagai sarana untuk berdakwah. Sebagai contoh seorang dokter, ia dapat memberikan resep tambahan kepada para pasien sebelum meninggalkan tempat prakteknya menuju rumah masing-masing dengan resep-resep syar’i seperti menjaga shalat lima waktu tepat pada waktunya, puasa senin-kamis, shalat dhuha dan lain sebagainya serta memberikan pemahaman yang benar bahwa kesembuhan datangnya hanya dari Allah swt semata, adapun dokter, obat, atau apapun selain-Nya hanyalah sebagai sebab dan perantara, dan tawakal kepada-Nya itulah jalan satu-satunya yang akan mendatangkan ketenangan dalam hati. Dengan cara yang sedemikian halus tentu seorang pasien tidak akan merasa bahwa dirinya sedang mendapatkan ceramah keagamaan seperti yang banyak disampaikan di mimbar-mimbar oleh para da’i.

Faktor-faktor pendukung kesuksesan dakwah pun perlu mendapatkan perhatian serius bagi para calon dai. Karena hal itu menjadi kunci sukses tidaknya sebuah dakwah. Berikut ini beberapa resep yang dapat diambil manfaatnya sebagai bekal menuju dunia dakwah:

1. Perbaikan diri.

Sebelum mulai terjun berdakwah seseorang dituntut terlebih dahulu memperbaiki hubungannya dengan Rabbnya. Karena intisari dakwah yang akan disampaikannya adalah ditujukan untuk menuju Rabbnya. Bagaimana mungkin seseorang ingin mengajak orang lain menuju Rabbnya sementara hubungan dirinya sendiri dengan Rabbnya kurang harmonis. Hal ini tentu menjadi syarat utama bagi seorang dai sekaligus sebagai sarana pembentukan kepribadian. Jika kita tengok lebih jauh biografi para ulama generasi salaf, tentu kita akan mendapati bahwa mereka adalah pribadi-pribadi yang demikian intensif memperhatikan hubungan dirinya dengan Rabbnya. Mereka betul-betul menjaga hubungan itu agar jangan sampai rusak. Setiap kali syetan datang menggoda hati mereka, mereka segera teringat akan Zat yang telah menciptakannya, lalu beristighfar dan bertaubat memohon ampun atas kesalahan yang baru saja dilakukannya. Bahkan tak sedikit di antara mereka yang terus-menerus menangisi kesalahan yang telah lama ia perbuat. Serta memohon ampun setiap saat karena khawatir kesalahan itu akan membuat Kekasihnya murka. Padahal jika kita teliti lebih jauh di antara kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan itu merupakan hal yang dianggap lumrah dan remeh oleh orang-orang biasa, terutama pada zaman sekarang, sebagaimana ahli hikmah mengatakan, hasanatul abrar sayyiatul muqarrabin. Oleh karena itu, tak mengherankan jika mereka menjadi pribadi-pribadi yang bukan saja mulia di mata Allah swt, namun di mata manusia mereka adalah permata-permata mahal yang selalu terjaga. Manusia banyak berdatangan kepada mereka untuk mengambil ilmu darinya atau sekedar untuk mendapatkan berkah kesalehannya. Nama mereka pun selalu harum tercatat dalam sejarah dan terabadikan hingga akhir zaman.

2. Memberi contoh.

Sebelum mengajak orang lain tentu seseorang dituntut terlebih dahulu memahami hakekat apa yang akan disampaikannya, kemudian mengaplikasikannya pada dirinya sendiri. Sehingga ketika amalan itu telah mendarahdaging dan menjadi kebiasaannya ia akan menemukan kenikmatan dari amalan itu, sehingga ketika suatu saat amalan itu terlewatkan ia akan merasa kehilangan dan berusaha mencari penggantinya. Dari situ, ia pun akan lebih mudah menyampaikannya kepada orang lain. Manusia pun takkan merasa kesulitan ketika ingin mencocokkan antara ucapan dengan amalannya sehari-hari, karena pada keduanya tak terdapat perbedaan yang jauh. Diriwayatkan bahwa salah seorang di antara ulama salaf tiba-tiba berhenti pada suatu permasalahan fiqh dan menunda menjelaskannya hingga beberapa waktu lamanya, kemudian ia kembali lagi ke majelis ta’lim untuk menjelaskan permasalahan tersebut, ketika ditanya mengapa ia melakukan hal yang demikian ia mengatakan, “Aku takkan menerangkan masalah ini sebelum aku mempraktekkannya”, permasalahan itu adalah masalah membebaskan budak. Ini merupakan strategi dakwah yang paling ampuh, bahkan lebih ampuh daripada sekedar kemampuan berceramah yang baik namun tidak diiringi dengan contoh nyata sehingga ucapannya kontras dengan perbuatannya. Bahkan yang terakhir ini merupakan perbuatan yang dapat mendatangkan murka Allah swt. Konsep ini merupakan konsep Rasulullah saw yang ditanamkan kepada para sahabatnya. Beliau bersabda, “Ibda’ binafsika”. Ya, mulailah dari dirimu sendiri, jangan menunggu orang lain. Terlebih bagi seorang dai yang setiap gerak-gerik dan tingkah lakunya diperhatikan dan menjadi panutan bagi umatnya, tentu akan sangat fatal akibatnya jika umatnya mendapatinya dalam kondisi yang tidak sesuai dengan apa yang selama ini disampaikannya.

3. Mengajak bukan memvonis.

Sebagaimana istilah dakwah itu sendiri diambil, dari kata da’a-yad’u-du’a wa da’wah, yang berarti mengajak atau ajakan, maka bagaimana seorang dai menjadikan bahasa dakwahnya menjadi bahasa ajakan yang bersifat persuasif dan jauh dari kesan menggurui sangat perlu diperhatikan. Memang ada saatnya seseorang harus menggunakan bahasa guru terhadap murid seperti ketika seseorang mengajari anaknya. Namun untuk kondisi masyarakat secara umum bahasa ajakan lebih bisa diterima. Khususnya masyarakat Indonesia yang majemuk, mereka akan merasa lebih senang dengan dakwah yang bersifat mengajak dan mendorong orang untuk berbuat baik, mengingat watak manusia adalah merasa paling tahu dan tidak suka digurui. Biasanya cara ini jarang sekali dipahami oleh para dai pemula. Padahal cara ini memilik pengaruh yang jauh lebih besar dan lebih efektif. Oleh karena itu, pengaturan bahasa ketika menyampaikan sebuah dakwah pun menjadi syarat mutlak. Memang pada kenyataannya seseorang sedang berdiri berceramah, namun jika bahasa yang digunakan adalah bahasa motivasi maka para pendengar pun tidak akan merasa diceramahi sama sekali. Ibarat seorang pedagang yang ingin menawarkan barang dagangannya, ia dituntut untuk bisa meyakinkan pembeli tanpa harus menipu. Kemudian yang harus dihindari oleh seorang dai adalah sikap cepat memvonis. Seorang dai harus memahami posisinya bahwa dirinya adalah seorang penyeru bukan seorang hakim. Oleh karena itu, kapan pun ia menemui sebuah kemungkaran, yang paling pertama ia pikirkan adalah mencari jalan terbaik untuk merubah kemungkaran tersebut, bukan mencela dan menyalahkan orang lain. Kesalahan yang banyak dilakukan oleh para dai adalah mencari pembenaran bagi dirinya sendiri dengan cara memvonis sana dan mencela sini lalu menganggap dirinya paling benar tanpa mau mencari penyebab kemungkaran tersebut serta mencari solusinya.

4. Sampaikan apa adanya.

Yang terakhir ini lebih merupakan amanat bagi seorang pengemban dakwah. Seorang dai harus menyampaikan dakwahnya secara terbuka dan apa adanya. Terbuka artinya tidak menutup-nutupi sebagian pesan dan menyampaikan sebagian lainnya. Sampaikanlah amanat Rasulullah saw itu dengan sempurna, tanpa mengurangi ataupun menambahinya sedikitpun. Sampaikanlah Islam apa adanya, karena Islam merupakan ajaran yang telah sempurna. Ia tak boleh dikurangi dan tak perlu ditambahi. Islam juga merupakan ajaran yang sesuai dengan fitrah manusia, maka tak perlu kita menutup-nutupinya. Sampaikanlah kepada manusia bahwa Islam adalah agama perdamaian, cinta kasih sayang dan persaudaraan. Islam adalah agama yang menjunjung tinggi keadilan dan kesejahteraan. Ia melarang segala macam bentuk kezaliman dan kesewenang-wenangan serta penindasan. Islam adalah agama yang indah dan sesuai hati nurani. Sampaikanlah bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk saling bersopan santun dan saling menghormati. Sampaikan pula bahwa Islam adalah agama kemuliaan, dan kemuliaan Islam itu diletakkan di sebuah puncak tertinggi yang bernama Jihad. Dengan tiang Jihad-lah agama ini sanggup tegak hingga akhir zaman. Dan akan senantiasa ada sekelompok dari umat ini yang memegang panji itu, serta menggenggamnya hingga akhir zaman. Sampaikanlah bahwa Islam ini bisa tegak hingga kini berkat keringat para ulama dan darah para syuhada dan sejarah Islam tercatat dengan dua tinta, tinta emas para ulama dan tinta darah para syuhada. Sampaikan pula bahwa Islam ini tak akan dapat kembali kepada kejayaannya sebelum umatnya kembali kepada agamanya, kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw. Sampaikanlah Islam secara kaffah dan jangan lupa untuk senantiasa berdoa kepada Allah swt, memohon taufik dari-Nya serta bersabar menghadapi badai cobaan dan rintangan yang akan selalu datang silih berganti sebagai sunnatullah. Harapkan selalu ridha Allah swt dan bersihkan hati dari keinginan-keinginan duniawi. Ingat, jalan dakwah bukanlah jalan mulus bertabur bunga di kanan kiri, berhias tepuk tangan dan sorak sorai penonton dan bermahkotakan decak kagum dan pujian. Namun, ia adalah sebuah pendakian terjal penuh onak, duri dan bebatuan tajam. Ia adalah jalan yang menjadikan Rasulullah saw berlumuran darah, kehilangan banyak sahabat dan kerabatnya. Jalan yang menjadikan para nabi dicerca, dihina, disiksa bahkan dibunuh oleh umatnya. Tentu kisah Nabi Nuh, Hud, Shalih, Ibrahim, Luth, Musa, Isa dan masih banyak lagi nabi-nabi lainnya dapat menjadi kisah penghibur hati bagi para peniti jalan mulia ini. Jalan yang memberikan garis pembeda antara orang-orang yang benar-benar beriman dengan yang tidak. Ia adalah jalan seorang mukmin sejati hingga hari kiamat. Wallahu a’lam bis showab.

K E L U A R G A

membentuk keluarga islami

Mayoritas manusia tentu mendambakan kebahagiaan, menanti ketentraman dan ketanangan jiwa. Tentu pula semua menghindari dari berbagai pemicu gundah gulana dan kegelisahan. Terlebih dalam lingkngan keluarga. Ingatlah semua ini tak akan terwujud kecuali dengan iman kepada Alloh, tawakal dan mengembalikan semua masalah kepadaNya, disamping melakukan berbagai usaha yang sesuai dengan syari'at.

Pentingnya Keharmonisan Keluarga Yang paling berpengaruh buat pribadi dan masyarakat adalah pembentukan keluarga dan komitmennya pada kebenaran. Alloh dengan hikmahNya telah mempersiapkan tempat yang mulia buat manusia untuk menetap dan tinggal dengan tentram di dalamnya. FirmanNya: "dan diantara tanda-tanda kekuasanNya adalah Dia mencipatakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan diajadikanNya diantara kamu rasa kasih sayang. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (Ar Rum: 21)

Ya.supaya engkau cenderung dan merasa tentram kepadanya (Alloh tidak mengatakan: 'supaya kamu tinggal bersamanya'). Ini menegaskan makna tenang dalam perangai dan jiwa serta menekankan wujudnya kedamaian dalam berbagai bentuknya.

Maka suami istri akan mendapatkan ketenangan pada pasangannya di kala datang kegelisahan dan mendapati kelapangan di saat dihampiri kesempitan. Sesungguhnya pilar hubungan suami istri adalah kekerabatan dan pershabatan yang terpancang di atas cinta dan kasih sayang. Hubungan yang mendalam dan lekat ini mirip dengan hubungan seseorang dengan dirinya sendiri. Al Qur'an menjelaskan: "Mereka itu pakaian bagimu dan kamu pun pakaian baginya." (Al Baqarah: 187)

Terlebih lagi ketika mengingat apa yang dipersiapkan bagi hubungan ini misalnya; penddidikan anak dan jaminan kehidupan, yang tentu saja tak akan terbentuk kecuali dalam atmosfir keibuan yang lembut dan kebapakan yang semangat dan serius. Adakah di sana komunitas yang lebih bersih dari suasana hubungan yang mulia ini?

Pilar Peyangga Keluarga Islami

1. Iman dan Taqwa
Faktor pertama dan terpenting adalah iman kepada Alloh dan hari akhir, takut kepada Dzat Yang memperhatikan segala yang tersembunyi serta senantiasa bertaqwa dan bermuraqabbah (merasa diawasi oleh Alloh) lalu menjauh dari kedhaliman dan kekeliruan di dalam mencari kebenaran.

"Demikian diberi pengajaran dengan itu, orang yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat. Barang siapa yang bertaqwa kepada Alloh niscaya Dia kan mengadakan baginya jalan keluar. Dan Dia kan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Alloh niscaya Alloh akan mencukupkan keperluannya." (Ath Thalaq: 2-3)

Di antara yang menguatkan tali iman yaitu bersungguh-sungguh dan serius dalam ibadah serta saling ingat-mengingatkan. Perhatikan sabda Rasululloh: "Semoga Alloh merahmati suami yang bangun malam hari lalu shalat dan membangunkan pula istrinya lalu shalat pula. Jika enggan maka dipercikkannya air ke wajahnya. Dan semoga Alloh merahmati istri yang bangun malam hari lalu shalat dan membangunkan pula suaminya lalu shalat pula. Jika enggan maka dipercikkannya air ke wajahnya." (HR. Ahmad, Abu Dawud, An Nasa'i, Ibnu Majah).

Hubungan suami istri bukanlah hubungan duniawi atau nafsu hewani namun berupa interaksi jiwa yang luhur. Jadi ketika hubungan itu shahih maka dapat berlanjut ke kehidupan akhirat kelak. FirmanNya: "Yaitu surga 'Adn yang mereka itu masuk di dalamnya bersama-sama orang yang shaleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya." (Ar Ra'du: 23)

2. Hubungan Yang Baik
Termasuk yang mengokohkan hal ini adalah pergaulan yang baik. Ini tidak akan tercipt akecuali jika keduanya saling mengetahui hak dan kewajibannya masing-masing.

Mencari kesempurnaan dalam keluarga dan naggotanya adalah hal mustahil dan merasa frustasi daklam usha melakukan penyempurnan setiap sifat mereka atau yang lainnya termasuk sia-sia juga.

3. Tugas Suami
Seorang suami dituntut untuk lebih bisa bersabar ketimbang istrinya, dimana istri itu lemah secara fisik atau pribadinya. Jika ia dituntut untuk melakukan segala sesuatu maka ia akan buntu.

Teralalu berlebih dalam meluruskannya berarti membengkokkannya dan membengkokkannya berarti menceraikannya. Rasululloh bersabda: "Nasehatilah wanita dengan baik. Sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk dan bagian yang bengkok dari rusuk adalah bagian atasnya. Seandainya kamu luruskan maka berarti akan mematahkannya. Dan seandainya kamu biarkan maka akan terus saja bengkok, untuk itu nasehatilah dengan baik." (HR. Bukhari, Muslim)

Jadi kelemahan wanita sudah ada sejak diciptakan, jadi bersabarlah untuk menghadapinya. Seorang suami seyogyanya tidak terus-menerus mengingat apa yang menjadi bahan kesempitan keluarganya, alihkan pada beberapa sisi kekurangan mereka. Dan perhatikan sisi kebaikan niscaya akan banyak sekali.

Dalam hal ini maka berperilakulah lemah lembut. Sebab jika ia sudah melihat sebagian yang dibencinya maka tidak tahu lagi dimana sumber-sumber kebahagiaan itu berada. Alloh berfirman; "Dan bergaullah bersama mereka dengan patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka maka bersabarlah Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Aloh menjadikannya kebaikan yang banyak."(An Nisa': 19)

Apabila tidak begitu lalu bagaimana mungkin akan tercipta ketentraman, kedamaian dan cinta kasih itu: jika pemimpin keluarga itu sendiri berperangai keras, jelek pergaulannya, sempit wawasannya, dungu, terburu-buru, tidak pemaaf, pemarah, jika masuk terlalu banyak mengungkit-ungkit kebaikan dan jika keluar selalu berburuk sangka.

Padahal sudah dimaklumi bahwa interaksi yang baik dan sumber kebahagiaan itu tidaklah tercipta kecuali dengan kelembutan dan menjauhakan diri dari prasangka yang tak beralasan. Dan kecemburuan terkadang berubah menjadi prasangka buruk yang menggiringnya untuk senantiasa menyalah tafsirkan omongan dan meragukan segala tingkah laku. Ini tentu akan membikin hidup terasa sempit dan gelisah dengan tanpa alasan yang jelas dan benar.

4. Tugas Istri
Kebahagiaan, cinta dan kasih sayang tidaklah sempurna kecuali ketika istri mengetahui kewajiban dan tiada melalaikannya. Berbakti kepada suami sebagai pemimpin, pelindung, penjaga dan pemberi nafkah. Taat kepadanya, menjaga dirinya sebagi istri dan harta suami. Demikian pula menguasai tugas istri dan mengerjakannya serta memperhatikan diri dan rumahnya.

Inilah istri shalihah sekaligus ibu yang penuh kasih sayang, pemimpin di rumah suaminya dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Juga mengakui kecakapan suami dan tiada mengingkari kebaikannya. Untuk itu seyogyanya memaafkan kekeliruan dan mangabaikan kekhilafan. Jangan berperilaku jelek ketika suami hadir dan jangan mengkhianati ketika ia pergi.

Dengan ini sudah barang tentu akan tercapai saling meridhai, akan langgeng hubungan, mesra, cinta dan kasih sayang. Dalam hadits: "Perempuan mana yang meninggal dan suaminya ridha kepadanya maka ia masuk surga." (HR. Tirmidzi, Hakim, Ibnu Majah)

Maka bertaqwalah wahai kaum muslimin! Ketahuilah bahwa dengan dicapainya keharmonisan akan tersebarlah semerbak kebahagiaan dan tercipta suasana yang kondusif bagi tarbiyah.

Selain itu tumbuh pula kehidupan di rumah yang mulia dengan dipenuhi cinta kasih dan saling pengertian anatar sifat keibuan yang penuh kasih sayang dan kebapakan yang tegas, jauh dari cekcok, perselisihan dan saling mendhalimi satu sama lain. Juga tak ada permusuhan dan saling menyakiti.

Penutup
Lurusnya keluarga menjadi media untuk menciptakan keamanan masyarakat. Bagaimana bisa aman bila ikatan keluarga telah amburadul. Padahal Alloh memberi kenikmatan ini yaitu kenikmatan kerukunan keluarga, kemesraan dan keharmonisannya.

Hubungan suami istri yang sangat solid dan fungsinya sebagai orang tua di tambah anak-anaknya yang tumbuh dalam asuhan mereka, merupakan gambaran umat terkini dan masadepan. Karena itu ketika setan berhasil menceraikan hubungan keluarga dia tidak sekadar menggoncangkan sebuah keluarga namun juga menjerumuskan masyarakat seluruhnya ke dalam kebobrokan yang merajalela. Realita sekarang menjadi bukti.

Semoga Alloh merahmati pria yang perilakunya terpuji, baik hatinya, pandai bergaul (terhadap keluarga), lemah lembut, pengasih, penyayang, tekun, tidak berlebihan dan tiada lalai dengan kewajibannya. Semoga Alloh merahmati pula wanita yang tidak mencari-cari kekeliruan, tidak cerewet, shalihah, taat dan memelihara dirinya ketika suaminya tidak ada karena Alloh telah memeliharanya.

Bertaqwalah wahai kaum muslimin, wahai suami istri. Barang siapa yang bertaqwa kepada Alloh niscaaya akan dimudahkan urusannya. (Syeikh Shalih bin Abdullah bin Al Humaid).